29 Oktober 2014

AVANZA G ; Behind Story

 
Alhamdulillah, do'a istri saya sejak masih kecil terkabul yaitu memiliki kendaraan sendiri. Meski kondisi second dan bulan depan mulai angsuran pertama hehe...
 
Suatu ketika istri pernah bercerita bahwa selagi kecil dia selalu menumpang mobil saudaranya bila ingin mudik dari Jakarta ke Palembang. Sepanjang perjalanan dia melihat sepupunya yang masih kecil asyik bermain apa saja didalam mobil. Dalam hati dia iri dan berdoa semoga suatu saat bisa memiliki mobil sendiri.
 
Setelah menikah dengan saya, dan melalui perhitungan yang (kurang) matang akhirnya kami memutuskan untuk membeli mobil second dengan cara kredit. Dengan pertimbangan kami memiliki bayi mungil yang ditakutkan tidak nyaman bila berjalan jauh dengan roda dua, kemudian ada ibu mertua saya yang memiliki saudara jauh. Bayangkan kami ada di Serang Banten, saudaranya tersebar mulai di Cengkareng, Ciledug, Bogor, hingga Lebak. Ditambah istri saya masih kuliah di Universitas Indraprasta, yang kampusnya juga kadang di Condet hingga Lenteng Agung.
 
Sebenarnya mobil impian saya adalah Suzuki Katana atau Carry Futura, tapi demi menjaga gengsi (dan ini bukan prinsip saya) kami diberi Toyota Avanza seri G tahun 2009. Kenapa? Karena urusan uang muka dibantu Bapak saya, dan demi kenyamanan cucu pertama beliau :D bahkan saya belum lancar mengemudi dan belum memiliki SIM A
 
Dan karena ini pula mulai bulan ini kami harus hidup prihatin, demi angsuran :(
 
Bayangkan bila kami berdua buruh pabrik sepatu, memiliki hutang cicilan mobil selama 3 tahun, lantas bagaimana kami bisa hidup berfoya-foya. Kadang menyesal juga kenapa Avanza, tapi kadang bersyukur juga karena kami hanya dibebani hutang cicilan tanpa memikirkan uang muka. Bisa jadi juga hanya sekali ini kami bisa membeli mobil. Intinya sekarang adalah fokus bekerja untuk melunasi amanah dari Bapak ini. Dan kami rawat sebaik-baiknya.
 
salam inspirasi,
Redha Herdianto

14 Oktober 2014

Tips Memilih Obat Batuk

Pada dasarnya, setiap dokter menginginkan obat yang tepat mengarah pada penyebab penyakit hingga penyebab sakit pada pasien hilang dan pasien kembali sehat. Misalnya, pasien yang demam meriang satu minggu disertai batuk berwarna hijau diobati antibiotika karena dokter menganggap penyebab sakit adalah bakteri. Bakteri ini yang membuat pasien demam dan batuk. Batuk merupakan gejala yang akan hilang bila kuman diberantas. Jadi pada kasus ini bukan batuk yang menjadi tujuan pengobatan dokter, melainkan penyebab batuk.

Namun, seringkali penyebab pasien datang ke dokter adalah gejala yang mengganggu, meski penyebabnya bisa hilang dengan sendiri, misalnya virus. Justru sebagian besar pasien terutama anak-anak datang ke praktek dokter karena penyebab virus yang sebenarnya dapat sembuh sendiri. Keluhan batuk atau pilek bahkan kadang tak mengganggu orang tuanya. Misalnya si kecil tenang-tenang saja meski ada lendir mengalir di hidung, atau sesekali batuk, atau demam dengan suhu rendah. Ia bahkan masih aktif bermain. Pada kasus lain, anak datang dengan keluhan batuk atau hidung mampet yang membuatnya tidak bisa tidur. Ia tidak bisa belajar karena keluhannya, atau pada bayi, ia menjadi rewel dan gelisah tidurnya. Pada kasus-kasus ketika gejala menjadi sangat mengganggu kualitas hidup, pada saat inilah obat-obat pereda gejala mungkin dibutuhkan.

Mana Yang Tepat ?
Sampai saat ini belum ada penelitian mengenai obat apa yang paling "tokcer" untuk melawan batuk. Namun pada garis besarnya, terdapat obat yang menekan pusat batuk, obat yang mengencerkan dahak agar batuk berkurang, obat yang mengurangi peradangan saluran napas agar batuk berkurang, atau obat yang melegakan saluran napas hingga batuk berkurang. Di apotek mungkin kita akan sering mendengar istilah sebagai berikut :

Antitusif : bekerja menekan pusat batuk yang terletak di medulla oblongata otak. Batuk terjadi akibat adanya rangsangan di saraf sensorik saluran trakea dan bronkus yang menstimulasi saraf aferan kemudian mengaktivasi pusat batuk. Obat anti tusif memblokade jalur ini hingga otak tidak "memerintahkan" tubuh untuk batuk. Termasuk dalam golongan obat ini adalah kodein dan dekstrometorfan.

Mukolitik/Ekspektoran : Bekerja melarutkan mukus atau lendir hingga viskositas ledir berkurang dan memudahkan untuk dibatukkan. Cara kerja mukolitik yang lain adalah menguraikan dahak sehingga menjadi lebih encer atau mudah dibuang. Mukolitik contohnya adalah N-acetylcystein, bromheksin, ambroksol, atau guaifenesin. Bentuk obat bisa berupa tablet, sirup, injeksi, atau inhalasi. Penguapan dengan larutan isotonis (NaCl 0,9%) adalah cara ampuh sederhana untuk mengencerkan dahak. Begitu juga minum air putih yang banyak, berada pada suhu dan kelembapan yang sesuai dapat menjadi solusi jitu menghindari dahak yang kental.

Obat-obatan lain seperti bronkodilator (pelega saluran bronkus) tidak secara langsung mengurangi batuk namun dapat membantu mengurangi gejala bila memang penyebab batuk berasal dari penyempitan saluran pernapasan.

Mengobati Penyebabnya : semua rangsang pada saluran napas baik itu ditenggorokan hingga bronkus dapat menyebabkan batuk. Batuk dianggap sebagai suatu gejala adanya iritasi di saluran napas, pertanda adanya gangguan di area pernapasan. yang terpenting adalah menuntaskan apa yang menyebabkan refleks batuk muncul. 

sumber : Majalah GEMAS. Edisi September 2014

salam inspirasi,
Redha Herdianto