Or perhaps in Slytherin you’ll make your real friends, Those cunning folk use any means to achieve their ends. And Power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Ramadhan Pertama

Syahdan, sudah menjadi kelaziman bahwa Ramadhan merupakan bulan suci yang akan dipenuhi dengan keramahan dan kehangatan keluarga. Mulai dari sahur pertama, seluruh keluarga berkumpul sembari makan mereka bercengkrama. Kedua adalah dukungan penuh atas salah satu anggota keluarga yang shaum saling menghormati atas kewajiban yang dijalankan, meski salah satu tidak bisa berpuasa maka salah satunya pasti tidak akan melakukan hal-hal yang menggoda untuk membatalkan puasanya. Ketiga disaat berbuka (ifthor) bercanda ria dengan segenap makanan manis yang sudah menjadi sunnah. Indah nian shaum semacam itu, satu bulan pun hampir tidak pernah terasa lelah.

Ini adalah ramadhan pertamaku di tanah rantau, minggu pertama aku habiskan di mess putra. Supaya ramai dan mengurangi kesedihan. Kata beberapa teman mereka sempat menangis ketika sahur pertama jauh dari keluarga, kini aku sadar bahwa mereka adalah wanita. Wajar kalau menangis.

Oiya, seperti yang kita ketahui bersama bahwa Rasul pernah berkata, "Bukalah di awal waktu, dan bersahurlah di akhir waktu". Nah kata-kata ini hampir sulit untuk direalisasikan di mess. Sebab paling tidak bangun dari tidur dan ngantri di kafe mess untuk beli makan sahur sejak 02.30 WIB dini hari. Sedangkan malam ini aku tidur di kost-ku sendiri dan bangun jam 03.30 WIB, pas sesuai selera. Jadi minggu depan aku putuskan di kost saja.

Untuk masalah buka puasa aku ngantri di kantin pabrik jam 17.00 WIB, demi pengiritan uang makan. Soalnya kalau diperhitungkan bulan puasa pengeluaran jadi lebih gila-gilaan. Untuk buka puasa saja paling minim harus merogoh kocek 7 ribu hingga 10 ribu. Kalau sudah ngambil jatah makan di kantin maka paling tidak mengirit 80 persennya. Diputuskan untuk membeli sendok plastik dan kotak nasi standar.

Yang lebih heran lagi adalah shalat tarawih di kota ini, mayoritas menggunakan hitungan 23 rakaat dengan rincian 2 rakaat 2 salam dan witir 2-1. Tak lupa dengan kecepatan membaca maksimal, bacaan shalawat berbeda dengan di kampungku. Tapi yang penting ibadah sunnah yang kuanggap wajib ini semoga tidak pernah terlewat, amiin.

* gambar diambil dari ToetToet

salam inspirasi,
Redha Herdianto

Kungfu is not karate

Karate_Kid_2010Ini gara-gara kelamaan gak cek situs 21Cineplex, aku jadi lupa seri judul dari film remaja yang sudah aku ikuti dari awal dan sedang hit di setiap sudut pembicaraan remaja serta lembar-lembar majalah Anak Baru Gede (ABG) tersebut. Aku lupa kalau seri ketiga dari film Twilight adalah Eclipse, kupikir itu adalah yang kedua (New Moon), jadi aku meluncur ke studio 2 di Ramayana Cilegon untuk sedikit menikmati liburan akhir pekan.

Aku dan temanku, Rizki, akhirnya memutuskan untuk melihat yang paling baru, Karate Kid. Film yang dijadikan pembaharuan dari film dengan judul serupa beberapa tahun silam. Kalau dulu beneran Karate Kid dengan penampilan seorang guru beladirinya dari Jepang. Kali ini setting film dilakukan di negeri Tirai Bambu, lengkap dengan scene yang menampilan Gunung Kun Lun, Tembok Besar China, dan kekumuhan perumahan kelas bawah disana. Dan tak lupa seorang gurunya adalah artis besar mandarin, Jackie Chan.

Agak aneh sih, Karate yang merupakan beladiri asal Jepang menjadi judul film ini tapi beladiri yang ditampilkan adalah Kung Fu, pertandingan dan latihan Kung Fu dan sekolah Kung Fu yang memang bertebaran di China. Hampir sama lah dengan Indonesia yang menjamur padepokan Pencak Silat. Memang sejak awal inilah yang menjadi perdebatan dan kontroversi dari film satu ini, namun bukan berarti tidak laku dan ditinggalkan karena beda judul dengan isi. Malah menurutku inilah yang menjadi daya tarik dan membuat rasa penasaran penggemar film laga muncul.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari film anak-anak ini. Mulai dari memahami perihal hidup yang memang naik turun, pertemanan, cinta monyet hingga kebijakan seorang pengajar yang seharusnya mendidik dengan akhlak luhur. Tapi ciri utama dari film ada sangat kentara disini, meski sentuhannya agak sedikit samar, yakni setiap beladiri memiliki falsafah yang sama, yakni mengalahkan diri sendiri, tidak untuk sombong, butuh ketekunan dan yang paling penting adalah latihan jurus itu bukan segalanya sebab setiap gerakan tubuh kita adalah gerakan beladiri yang sesungguhnya.

Dari dua jam duduk termangu di depan layar besar 21Cineplex aku paling suka dua potongan kalimat yang keluar dari pernyataan Han (Jackie Chan), yakni (saat Xiao Dre meminta waktu latihan lagi), dan Terlalu Banyak Itu Tidak Baik (saat Xiao Dre meminta waktu latihan lagi) serta Kehidupan Akan Selalu Mengalahkanmu Tapi Kamu Bisa Memilih Bangkit Atau Kalah (saat Han sadar dia sudah sia-sia bersedih selama puluhan tahun akan kematian istri dan anaknya).

Selebihnya salut untuk pembuat film ini. Emosi penonton terbawa suasana, seluruh penonton beberapa kali bertepuk tangan kala Xiao Dre mengalahkan lawannya dengan bijak saat turnamen KungFu berlangsung. Meski aku sempat berpikir bahwa film ini hanya layak menjadi film anak-anak pengisi waktu liburan sekolah tiba.

*gambar diambil dari daemonsmovies

salam inspirasi,
Redha Herdianto