06 Juli 2015

MERS-CoV, Penyakit Baru Yang Mengancam Dunia


Satu lagi jenis penyakit baru yang muncul dan berpotensi menjadi epidemi global, MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus). Meski belum ada laporan mengenai jatuhnya korban di Indonesia namun hatus tetap diwaspadai, terutama pada jemaah haji yang baru kembali dari Arab. 

Belakangan penyebaran penyakit tersebut juga sudah sampai Korea Selatan dan bahkan juga telah menelan korban jiwa sebagaimana dilaporkan oleh berbagai media massa. 

MERS-CoV disebabkan oleh infeksi virus Corona, salah satu jenis virus yang masih berkerabat dengan virus penyebab SARS. Karena itu, gejalanya pun tak jauh berbeda dengan penyakit SARS, dengan indikasi utama seperti demam, bersin, dan batuk yang akhirnya berujung pada kematian akibat beberapa komplikasi serius yang terjadi seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan kegagalan multiorgan, gagal ginjal, kuagulopati konsumtif, dan perikarditis serta pneumonia berat. 

Penyebaran Virus Corona
Karena penyebarannya yang semakin meluas sejak April 2012 hingga awal tahun 2013, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan sejak Mei lalu untuk mewaspadai ancaman penyebarannya. 

Belum diketahui dengan jelas asal mula virus ini menyebar. Namun beberapa peneliti menduga bahwa penyebaran virus berasal dari salah satu jenis kelelawar yang banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah. Kesimpulan dicapai setelah para peneliti menemukan adanya kecocokan genetik 100 persen pada virus yang menginfeksi kelelawar jenis tersebut dengan manusia pertama yang terinfeksi. 

Spekulasi lain yang terdapat dikalangan para peneliti menyebutkan bahwa selain kelelawar, unta jugua diduga kuat berkaitan dengan asal mula dan penyebaran virus Corona, dimana ditemukan antibodi terhadap virus ini dalam tubuh hewan khas Timur Tengah itu. Mekanisme penyebaran virus Corona dari hewan ke manusia masih diteliti sampai saat ini, meskipun ada dugaan bahwa manusia pertama yang terinfeksi mungkin pernah secara tidak sengaja menghirup debu kotoran kering kelelawar yang terinfeksi. 

Saat ini, para peneliti masih menyelidiki kemungkinan hewan lain yang menjadi mediator penularan virus Corona guna menangani meluasnya penyebaran penyakit ini, mengingat bahwa jenis virus ini dikatakan lebih mudah menular antar-manusia dengan dampak yang lebih mematikan dibandingkan SARS. 

Penanganan MERS-CoV
Karena masih tergolong sebagai penyakit baru, belum ada vaksin khusus yang dapat mencegah terjadinya penyakit ini. Meski begitu, pencegahan tetap dapat dilakukan dengan memperkuat imunitas tubuh anda. 

Misalnya, sebelum anda berangkat naik haji atau melancong ke daerah Timur Tengah atau tempat-tempat lain yang sudah terjangkit penyakit ini, jaga kebugaran tubuh dengan asupan nutrisi dan istirahat yang cukup. Mengkonsumsi produk herbal yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh juga bermanfaat. Cara lain yang penting dilakukan, gunakanlah masker dan jaga sanitasi tubuh dan lingkungan tempat anda tinggal. 

Setidaknya, langkah-langkah pencegahan sederhana diatas akan membantu tubuh anda menjalankan perannya dalam menangkal virus. Kuncinya adalah penanganan yang cepat dan tepat karena mutasi virus Corona sangat cepat, sehingga lambatnya penanganan yang diberikan akan semakin meningkatkan angka kematian akibat penyakit ini. 

Hingga kini, pengobatan yang diberikan hanya difokuskan pada penanganan akan komplikasi dari penyakit ini. Tindakan isolasi dan karantina mungkin dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit MERS-CoV. 

*Disarikan dari berbagai sumber

salam sehat, 
Redha Herdianto

04 Juli 2015

[review] Last Knights


source : Madiun Post

Syahdan, sekelompok pasukan elit yang sangat jago dalam bertempur dinistakan oleh seorang Menteri licik sebuah kerajaan. Pasukan elit tersebut dengan teguh memegang prinsip kode etik yang sangat sederhana, bahwa kehormatan seorang pria tidak akan bisa hilang atau diambil kecuali oleh kematian. 

Sekelompok prajurit elit tersebut dengan sabar dan teliti merancang aksi balas dendam atas tanah yang dirampas, dan kematian pimpinan klan mereka. Aksi heroik tersebut dibayar dengan darah dan air mata, karena dipastikan tidak semua akan kembali. Namun itulah kehormatan seorang prajurit, mati dalam pertempuran lebih baik daripada diam tidak berdaya. Mereka berhasil meski harus menebus kemenangan tersebut dengan hukuman dari raja mereka. Tapi mereka tetaplah pahlawan yang akan diingat. 

Film ini khas Eropa, setidaknya menurut saya. Meski tidak disebutkan nama kerajaan dan lokasi, namun dari cara berpakaian serta nama-nama tokoh bukan mencerminkan nama Inggris. Paling tidak sih menurut saya, hehe. Ceritanya sih lumayan seru karena berani menampilkan darah dan luka, ini seperti mengingatkan saya akan film Ninja Assasins dan The Raid 2, meski dua film ini lebih brutal dari Last Knights. 

Untuk intrik film cukup tidak bisa ditebak karena skenario seperti dihilangkan ketika bagian perundingan rahasia diantara internal para prajurit tersebut. Bagaimana mereka meninggalkan keluarga, membuat siasat serta strategi dalam pembalasan dendam. Yang paling hollywood banget adalah salah satu diantara mereka ada yang berkhianat dan akhirnya dibunuh oleh salah satu temannya. Sangat jarang terjadi di film Asia. Tapi yang paling tidak hollywood banget adalah tidak ada adegan panas didalamnya meski beberapa kali ada scene didalam kamar dan tempat prostitusi. 

Secara garis besar bila anda menyempatkan waktu menonton film ini, maka ingatan anda akan dibawa kedalam sebuah cerita kolosal Jepang, yakni 47 Ronin. Mulai dari permainan pedang yang sangat Samurai style, karena mereka tidak memakai Long Sword khas prajurit Eropa. Ukuran pedang yang dipakai kecil dan pendek, cara mencabut pedang yang mirip penarikan katana, hingga gerakan bertarung yang lincah bak pertarungan Samurai. Hingga cara membunuh dengan memenggal kepala, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Long Sword. Ending cerita pun sangat mirip dengan 47 Ronin. Entahlah meniru atau hanya terinspirasi. 

Dua bintang untuk film ini. 

salam pencinta film, 
Redha Herdianto