29 September 2014

Kisah Hari Sabtu

 
Sabtu. Adalah sebuah hari yang hadir sebelum hari Minggu, dan kadang disebut hari akhir pekan. Pada hari ini sebagian pegawai libur dan termasuk buruh seperti saya. Beruntunglah tempat saya bekerja hanya memberlakukan 40 jam dalam seminggu. Sabtu dan Minggu libur. Tapi mulai sekarang hari Sabtu bukanlah hari leha-leha saya.
 
Bagi pekerja yang ingin tetap melanjutkan jenjang pendidikan, hari ini adalah hari dimana mereka diharuskan untuk duduk ditempat kuliah. Bukan saya, tapi istri. Masih kuliah S1 di Universitas Indraprasta. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Karena sudah hampir semester akhir, tempat kuliah yang harus disambangi adalah daerah Lenteng Agung, mulai tengah hari hingga lepas Isya. Masalahnya adalah rumah kami ada di daerah Serang Banten. Untuk kesana dibutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam. Dan ini perjuangan yang sesungguhnya. Kami harus berangkat jam 9 pagi, dan pulang melalui terminal Kampung Rambutan hingga sampai rumah jam 12 malam. Midnight bro...
 
Kami? Iya, kamu tidak salah membaca, karena saya adalah suami SIAGA (Siap, Antar, Jaga) hehe... jadilah saya ikut-ikutan mengejar angkot dan bis untuk berangkat dan pulang. Daripada kami ketinggalan bis terakhir, Primajasa. Belajar dari pengalaman bahwa Primajasa adalah bis antar kota dalam propinsi yang paling murah dibanding bis lain. Primajasa. Berangkat dari Tambak-Kadiding menuju Terminal Kp.Rambutan ongkos Rp.15.000 to 17.000,- Dari terminal naik angkot merah nomor 19 (arah Depok) ongkos Rp.5000,- sampai lokasi. Tidak hitung biaya makan dan jajan berdua.
 
Inilah sekelumit kisah hari Sabtu saya. Bagaimana dengan anda?
 
salam inspirasi,
Redha Herdianto

25 September 2014

Medical Check Up

 
Sebagai seorang yang diserahi tugas untuk memegang departemen HSE (Health, Safety and Environmental) berarti harus melaksanakan semua yang berhubungan dengan K3 perusahaan, salah satunya adalah Pemeriksaan Kesehatan Karyawan (Medical Check Up). Salah satu regulasi yang harus dipenuhi karena perusahaan memiliki fungsi tanggung jawab untuk menjamin pekerjanya, bukan hanya masalah kesejahteraan dan keselamatan namun juga kesehatan, baik sebelum (pra kerja) maupun sesudah (pasca kerja).
 
Dulu sekali saya menganggap bahwa MCU hanya sekedar membuat memo pengajuan ke poliklinik, kemudian alokasi orang dan waktu dan terjadilah MCU. Ternyata tidak. MCU di perusahaan itu berhubungan dengan biaya besar, butuh keputusan dan pertimbangan dari pihak pimpinan. Meski ini didasari oleh regulasi pemerintah dan buyer, tetap ini adalah pengeluaran biaya yang tidak sedikit.
 
Tiga bulan kedepan, pabrik saya akan melakukan MCU. Perencanaan saya lakukan untuk kurang lebih 5000 orang pekerja, total biaya yang dibutuhkan adalah hampir 1,4 milyar rupiah. Butuh waktu seminggu untuk menjelaskan kepada bagian keuangan agar memo pengajuan tersebut disetujui. Alhamdulillah bisa oke dengan penjelasan ini hanyalah perencanaan, sedangkan realisasi tidak akan sama jumlah yang hadir dengan alasan kesibukan kerja. Maklum pabrik tempat saya bekerja adalah manufaktur padat karya, jadi target adalah yang utama.
 
Harusnya saya jadi semangat dan bangga ketika "memo mahal" itu disetujui. Sayangnya saya tahu ada ketidakberesan dalam pelaksanaannya. Ketika dalam sebuah forum terbatas saya diberitahu oleh orang pusat bahwa harga itu telah "dimainkan", sehingga biaya akan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama untuk pelaksanaan MCU, kedua untuk oknum bos pusat, ketiga untuk asisten bos pusat. Sedangkan saya dan teman-teman di divisi bawah hanya dipaksa untuk menjelaskan pentingnya MCU kepada bagian keuangan, mengejar pekerja yang tidak mau MCU karena takut jarum, dan menekan pengawas gedung bila dengan sengaja menolak izin pekerjanya untuk melakukan MCU. Intinya kami adalah bagian lelah.
 
Akhirnya awal bulan depan kami harus siap mental dan tenaga, bagian lelah harus siap bekerja. Mudah-mudahan bila teman-teman safety officer ada yang membaca, berdoa saja semoga kasusnya berbeda ditempat kalian dan urusannya lebih mudah. Aamiin
 
salam K3,
Redha Herdianto