03 November 2014

Pengalaman Masuk Kota

 
Memang benar setelah selesai belajar teori dan praktek mengemudi di lapangan, jalan lurus dan komplek maka tiba saatnya untuk turun gunung mengeliling kota. Memperbanyak jam terbang supaya tidak sekedar bisa namun mempertajam skill. Syukur-syukur sekalian bisa nge-drift hehe.
 
Weekend kemarin memberanikan diri menuju kawasan Ciceri Serang buat belanja di Carrefour. Rute yang diambil masuk tol Ciujung dan keluar di Serang Timur, alhamdulillah sukses. Keluar gerbang tol memutar kawasan Mall of Serang (MOS) dan sampailah di Carrefour. Hal yang paling ditakuti adalah masuk area parkir, akhirnya saya dapat spot yang enak karena di pojok (dan akhirnya parkir mundur), sukses juga :)
 
Nah masalah terjadi ketika akan keluar dari parkiran mall karena terdapat dua jalur berbeda dengan tingkat kesulitan yang berbeda pula. Khusus untuk orang Serang Banten pasti paham, apalagi pengemudi pemula. Pintu keluar Carrefour Serang lumayan sempit, untuk rute sisi kanan jalanan menurun dengan tikungan tajam dan untuk balik ke arah rumah harus memutar dijalan raya (dua lajur) dan kondisi traffic lumayan padat. Sedangkan rute sisi kiri menikung tajam ke kiri dengan hambatan angkot yang sering parkir mendadak, pengunjung dengan kendaraan roda dua yang hendak ikut masuk, ojeg dan becak yang juga ikutan ngetem di sisi kiri. Sumpah saya grogi :(
 
Saya ambil pintu keluar di sisi kiri dan benar saya spion kiri menempel di tembok gerbang keluar, dan cacat.
 
Cerita berlanjut hendak keluar pintu tol Ciujung dan macet lumayan panjang. Jalanan berbelok ke kiri dengan posisi menanjak landai. Lama hampir 30 menit, lumayan buat lancarin metode rem tangan. Setelah berhasil keluar pun masih dihadang dengan macet didepan pabrik Nikomas Gemilang, lumayan parah karena disalip motor dan angkot dari kanan-kiri. Alhamdulillah sukses juga sampai rumah.
 
Sekarang saya ketagihan jalan keliling dalam kota. Minggu depan berencana melaju ke jalanan Ciledug, mudah-mudahan tidak stress dengan tingkat macet yang luar biasa disana.
 
salam inspirasi,
Redha Herdianto
 
 

29 Oktober 2014

AVANZA G ; Behind Story

 
Alhamdulillah, do'a istri saya sejak masih kecil terkabul yaitu memiliki kendaraan sendiri. Meski kondisi second dan bulan depan mulai angsuran pertama hehe...
 
Suatu ketika istri pernah bercerita bahwa selagi kecil dia selalu menumpang mobil saudaranya bila ingin mudik dari Jakarta ke Palembang. Sepanjang perjalanan dia melihat sepupunya yang masih kecil asyik bermain apa saja didalam mobil. Dalam hati dia iri dan berdoa semoga suatu saat bisa memiliki mobil sendiri.
 
Setelah menikah dengan saya, dan melalui perhitungan yang (kurang) matang akhirnya kami memutuskan untuk membeli mobil second dengan cara kredit. Dengan pertimbangan kami memiliki bayi mungil yang ditakutkan tidak nyaman bila berjalan jauh dengan roda dua, kemudian ada ibu mertua saya yang memiliki saudara jauh. Bayangkan kami ada di Serang Banten, saudaranya tersebar mulai di Cengkareng, Ciledug, Bogor, hingga Lebak. Ditambah istri saya masih kuliah di Universitas Indraprasta, yang kampusnya juga kadang di Condet hingga Lenteng Agung.
 
Sebenarnya mobil impian saya adalah Suzuki Katana atau Carry Futura, tapi demi menjaga gengsi (dan ini bukan prinsip saya) kami diberi Toyota Avanza seri G tahun 2009. Kenapa? Karena urusan uang muka dibantu Bapak saya, dan demi kenyamanan cucu pertama beliau :D bahkan saya belum lancar mengemudi dan belum memiliki SIM A
 
Dan karena ini pula mulai bulan ini kami harus hidup prihatin, demi angsuran :(
 
Bayangkan bila kami berdua buruh pabrik sepatu, memiliki hutang cicilan mobil selama 3 tahun, lantas bagaimana kami bisa hidup berfoya-foya. Kadang menyesal juga kenapa Avanza, tapi kadang bersyukur juga karena kami hanya dibebani hutang cicilan tanpa memikirkan uang muka. Bisa jadi juga hanya sekali ini kami bisa membeli mobil. Intinya sekarang adalah fokus bekerja untuk melunasi amanah dari Bapak ini. Dan kami rawat sebaik-baiknya.
 
salam inspirasi,
Redha Herdianto