Or perhaps in Slytherin you’ll make your real friends, Those cunning folk use any means to achieve their ends. And Power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Makan romantis di Angkringan

Angkringan adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman. Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telor puyuh, kripik dan lain-lain. Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial atau SARA. Karena harganya yang murah. Akrabnya susana dalam angkringan membuat nama angkringan tak hanya merujuk kedalam tempat tetapi ke suasana. (wikipedia)

angringan_lampung angkringan  lampung_angkringan

Udah lama pengen nulis ini. Kira-kira sudah 4-5 bulan ini muncul mahluk bernama Angkringan di Lampung. Satu di lapangan Saburai, dan satu di depan gerbang .

Meski judul tulisan ini makan romantis, tapi aku belum pernah melihat ada pasangan makan disini. Mungkin mereka belum merasakan aura kebebasan disini. Makan di pinggir jalan, menyeruputi kopi joss panas sambil bercanda dan menikmati lampu jalanan sambil menghitung berapa banyak kendaraan yang lewat. Hmm… rasanya romantis banget, mengingat kalau malam pencahayaan (lighting) depan Unila sangat menentramkan. Kapan ya aku makan bareng pasanganku disana, yang ada juga selama ini sama temen-temen kantor.

laper,
Redha Herdianto

antara KosaKata dan Imajinasi

Seringkali kita terbius oleh keindahan bahasa dari sebuah novel yang sedang kita baca, jangankan beranjak berdiri, rasanya memikirkan hal lain pun sangat sulit dilakukan. Yang tercipta di otak kita adalah alur cerita yang sedang dipahami, bahkan tidak sedikit yang membayangkan menjadi aktor utama dalam sebuah cerita novel, baik fiksi maupun non-fiksi.

Kenapa begitu? Sebab imajinasi yang diciptakan oleh penulis terasa sangat kuat dan hampir saja kita mempercayainya sebagai hal yang nyata terjadi, meski kiblat bacaan yang kita baca adalah non-fiksi.

Saya jadi teringat sebuah kalimat yang diucapkan oleh pimpinan lembaga waktu saya les bahasa Inggris dulu, “Kalau rajin baca, pasti suatu hari bisa buat novel sendiri,” ujarnya. Hhmm… apakah betul bisa, atau itu sebuah hiburan belaka. Sebab hampir semua penyuka aktivitas membaca selalu bermimpi untuk bisa menerbitkan tulisannya dalam bentuk buku, dan mereka jadi seorang penulis. Titik, cuma itu.

Setelah beberapa tahun saya baru sadar bahwa benar juga ungkapan tersebut. Ini ada hubungannya dengan pengumpulan kosa kata dan pelatihan membuat imajinasi. Semakin banyak membaca maka akan semakin ingat kata yang banyak digunakan, majas, cara menulis dan bercerita, sehingga kita tidak akan pernah mengalami sebuah keadaan stuck dimana ide habis dan bingung cara mengungkapkan sebuah kalimat. Tetapi jangan samakan imajinasi dengan khayalan (meski dari dulu aku menganggapnya sama) sampai saya menemukan sebuah tulisan apik dari situs Akar Padi :

IMAJINASI atau imajinasi, sesungguhnya telah diakrabi oleh sedemikian banyak manusia. Kendati demikian, pemahaman atas imajinasi, masih cenderung disalah-tafsirkan. Sebagian besar orang memahami imajinasi sebagai khayalan, yang sesungguhnya merupakan ilusi dan fantasi. Keduanya berbeda dengan imajinasi.

Dari dua hal ini bisa dipastikan kalau saja kita mau meluangkan waktu beberapa jam lamanya membaca dan menghayati sebuah alur cerita, maka kedepan dengan mudahnya melakukan hal yang sama, menulis. Dan fakta bahwa biasanya penulis hebat memiliki kecenderungan lurus dengan kesenangannya membawa karya tulis lainnya.

*gambar diambil dari situs Motivasi Hidup

suka membaca,
Redha Herdianto