04 Juli 2015

[review] Last Knights


source : Madiun Post

Syahdan, sekelompok pasukan elit yang sangat jago dalam bertempur dinistakan oleh seorang Menteri licik sebuah kerajaan. Pasukan elit tersebut dengan teguh memegang prinsip kode etik yang sangat sederhana, bahwa kehormatan seorang pria tidak akan bisa hilang atau diambil kecuali oleh kematian. 

Sekelompok prajurit elit tersebut dengan sabar dan teliti merancang aksi balas dendam atas tanah yang dirampas, dan kematian pimpinan klan mereka. Aksi heroik tersebut dibayar dengan darah dan air mata, karena dipastikan tidak semua akan kembali. Namun itulah kehormatan seorang prajurit, mati dalam pertempuran lebih baik daripada diam tidak berdaya. Mereka berhasil meski harus menebus kemenangan tersebut dengan hukuman dari raja mereka. Tapi mereka tetaplah pahlawan yang akan diingat. 

Film ini khas Eropa, setidaknya menurut saya. Meski tidak disebutkan nama kerajaan dan lokasi, namun dari cara berpakaian serta nama-nama tokoh bukan mencerminkan nama Inggris. Paling tidak sih menurut saya, hehe. Ceritanya sih lumayan seru karena berani menampilkan darah dan luka, ini seperti mengingatkan saya akan film Ninja Assasins dan The Raid 2, meski dua film ini lebih brutal dari Last Knights. 

Untuk intrik film cukup tidak bisa ditebak karena skenario seperti dihilangkan ketika bagian perundingan rahasia diantara internal para prajurit tersebut. Bagaimana mereka meninggalkan keluarga, membuat siasat serta strategi dalam pembalasan dendam. Yang paling hollywood banget adalah salah satu diantara mereka ada yang berkhianat dan akhirnya dibunuh oleh salah satu temannya. Sangat jarang terjadi di film Asia. Tapi yang paling tidak hollywood banget adalah tidak ada adegan panas didalamnya meski beberapa kali ada scene didalam kamar dan tempat prostitusi. 

Secara garis besar bila anda menyempatkan waktu menonton film ini, maka ingatan anda akan dibawa kedalam sebuah cerita kolosal Jepang, yakni 47 Ronin. Mulai dari permainan pedang yang sangat Samurai style, karena mereka tidak memakai Long Sword khas prajurit Eropa. Ukuran pedang yang dipakai kecil dan pendek, cara mencabut pedang yang mirip penarikan katana, hingga gerakan bertarung yang lincah bak pertarungan Samurai. Hingga cara membunuh dengan memenggal kepala, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Long Sword. Ending cerita pun sangat mirip dengan 47 Ronin. Entahlah meniru atau hanya terinspirasi. 

Dua bintang untuk film ini. 

salam pencinta film, 
Redha Herdianto

10 Juni 2015

Ergonomi; Perbaiki Tulang Belakang


source: kursi ergonomi saili 
Perbaiki postur duduk untuk menghilangkan sakit punggung. 

Kebanyakan kasus sakit punggung disebabkan oleh postur tubuh yang buruk. Berdiri tegak meluruskan tulang belakang dan biarkan otot-otot punggung melakukan pekerjaan mereka. Posisi ini merupakan cara ideal untuk melatih postur yang baik. Membungkuk atau memaksakan membungkuk dan menekan otot-otot akan mengakibatkan nyeri dan sakit punggung yang berkepanjangan. 

Postur Berdiri Yang Baik
  • Berdiri menghadap tembok. Sejajarkan kedua kaki dan tumpuk berat tubuh secara berimbang di kedua kaki. 
  • Jangan mengunci lutut. 
  • Dekatkan punggung bawah pada tembok. Tarik perut. 
  • Posisikan bahu sejajar tembok, jangan menekuknya. 
  • Luruskan punggung atas. Tarik dada keluar. 

Postur Duduk Yang Baik
  • Duduk dengan kaki di lantai
  • Duduk dengan punggung sejajar kursi
  • Posisikan bahu sejajar kursi dan tangan rileks. 
  • Tegakkan kepala, sejajarkan dengan tulang belakang. 

Postur Mengangkat/Menekuk
  • Saat mengangkat barang berat, tegakkan punggung, tekuk tubuh di bagian pinggang dan lutut, biarkan otot kaki yang menahan berat. 
  • Saat membawa barang berat, gunakan kedua tangan dan dekatkan barang ke pinggang. 

Saat mempertahankan postur yang baik mulai melelahkan, lakukan peregangan. Lakukan latihan setiap hari untuk menguatkan otot inti mendukung mempertahankan postur yang baik, termasuk pada otot perut bawah, akan membantu menghilangkan atau mencegah sakit punggung. 

salam pembelajar, 
Redha Herdianto