Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

SMS di sore hari

“Ass’kum. Bukankah hati menguasai, bukankah otak mengendalikan, bukankah logika selalu menyertai. Tapi mengapa begitu sulit mengkoordinir ketiganya dalam merespon suatu ‘virus’ dalam tubuh. Bukankah itu sudah cukup?”

Aneh, SMS tanpa nama ini kenapa masuk ke inbox hp ku. Apakah orang salah kirim atau orang iseng. Ah, aku tak mau berburuk sangka, mungkin temanku minta nasehat dan nggak punya pulsa, lalu pinjam dan lupa mencantumkan namanya.

“Cukup. Apabila sang pemiik tubuh tidak menjadi budak dari nafsu. Hati bisa mati, otak bisa rusak dan kadang logika sering menyesatkan” balasku melalui SMS pula.

Tiiiit…..tiiit…..( handhoneku berbunyi lagi).

Malang, ‘virus’ telah mengacaukan hati, otak, logika. Berharap melihat sisi-sisi lain dari rembulan. Membasuh wajah dengan airmata. Mencari pembenaran atas cintanya, tapi pembenaran yang seperti apa” terulang lagi sms ‘aneh’ dari nomor yang sama.

Siapa ya (gumamku dalam hati). Tapi ya sudah lah, mungkin orang iseng, pikirku.


* * * * *

“Ass’kum. Maaf atas keusilan ana waktu itu, tanpa nama lagi (pengecut, tapi bukan seperti maksud ana). Afwan jiddan. Wass. Fitria

Astaghfirullah. Fitria. Ah, aku jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu. Dia begitu setia menunggu jadwalku seminar proposal penelitian (walau akhirnya aku tidak jadi datang). Lalu sehari sesudahnya aku mendapat suratnya, dengan kalimat yang begitu mengharukan. “Kak, aku tidak akan lelah untuk menunggu.” tulisnya dlm surat. Duh, koq gini sih. Fitri…fitri….

0 komentar: