Jum'at, 5 Oktober 2007
OPINI
Memahami Makna Sumpah Prajurit
Redha Herdianto
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FISIP Unila
Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali merayakan ulang tahunnya yang ke-62. Angka yang menunjukan bahwa usia ini sudah tidak muda lagi. Dan pada usia inilah seharusnya sebuah institusi besar sudah dapat menentukan mau kemana arah yang akan dituju, didasari oleh sebuah kematangan berpikir dan kedewasaan untuk bertindak.
TNI sebagai salah satu komponen bangsa terpenting memang tidak bisa lepas dari sejarah perjalanan bangsa dari masa ke masa. Sejalan dengan putaran roda zaman, TNI dituntut mampu menjalankan amanah yang diembannya dan telah menjadi dasar pendiriannya sebagai suatu konsekuensi pengejawantahan sumpah prajurit. Jati diri TNI yang terbentuk oleh proses perjuangan panjang bangsa
TNI yang memiliki tugas pokok sebagai intitusi yang tidak hanya bertugas untuk menegakkan serta mempertahankan kedaulatan negara juga berfungsi untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Memang sulit dipungkiri bahwa kekuatan militer merupakan salah satu pilar penting bagi kedaulatan negara. Nyatanya, di negara-negara yang memiliki daya topang militer yang kuat akan memunculkan kewibawaan diplomatik dan gengsi politik internasional. Kekuatan militer menjadi salah satu barometer kekuatan suatu negara. Jika militernya kuat, yakinlah negara itu memiliki posisi bargaining yang kuat dengan negara lain.
Persoalannya adalah bagaimana negara kita memiliki TNI yang kuat, solid, dan profesional yang ditopang oleh kekuatan-kekuatan komponen bangsa lainnya? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.
Dua poin penting yang disebutkan oleh Panglima TNI Endriartono Sutarto (2003) bahwa prajurit TNI harus menjadi prajurit yang professional dan menjunjung tinggi hukum serta berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan setiap masalah bangsa. Berawal dari dua poin ini maka TNI seharusnya turut berusaha bersama semua komponen bangsa untuk membantu negeri ini bangkit dari keterpurukan, bukan malah menambah permasalahan.
Sejak awal, prajurit memang dibentuk dan dididik atas doktrin sumpah prajurit. Mereka harus tunduk dan patuh terhadap undang-undang dan hukum. Mereka diwajibkan untuk menjaga kehormatan diri dan menjadi contoh serta memelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya. Setiap prajurit wajib untuk menunjukkan sikap prajurit yang profesional, bukan justru sikap arogan yang dapat mencoreng nama baik prajurit sebagai pembela bangsa dan negara.
Kalaupun TNI sebagai prajurit yang menjunjung tinggi semangat Sapta Marga. Prajurit yang menjunjung tinggi kejujuran, kebenaran dan keadilan memahami betul apa yang sudah menjadi semangat dasar jiwa seorang prajurit, maka dapat dipastikan kasus-kasus yang melibatkan TNI sebagai institusi tidak akan pernah terjadi.
Serta kasus-kasus serupa, baik antara TNI dan masyarakat ataupun TNI dengan intitusi polisi yang notabene memiliki fungsi yang hampir sama, melindungi dan mengayomi hak-hak warga negara, bagi terciptanya suasana nyaman di masyarakat.
Momentum ulang tahun TNI 5 Oktober 2007 harus dijadikan ajang introspeksi diri oleh institusi TNI. Memahami kembali arti penting dari sumpah prajurit yang memang dipersiapkan untuk menjaga kedaulatan NKRI, serta menelusuri kembali sejarah yang sudah dijalani selama ini. Bukan sekadar romantisme sejarah yang dikedepankan, melainkan bagaimana TNI belajar dari masa lalu untuk menjadi yang lebih baik di masa yang akan datang.
Bagaimana merumuskan peran tentara memang perlu dirembuk bersama, bukan cuma di tengah kuatnya keinginan untuk memiliki kekuatan militer yang kuat dan reformasi TNI menjadi lebih baik dan dapat menjalankan tugas utamanya, melainkan juga di tengah perubahan besar tentang apa yang disebut ancaman kedaulatan dan pertahanan.
Memang bukan hal mudah karena kita tidak melakukannya untuk mengisi ruang kosong. Peran serta dan partisipasi dari berbagai pihak sangat diperlukan. Rasa kepemilikan (sense of belonging) masyarakat terhadap TNI harus ditanamkan sebab TNI yang berbasiskan masyarakat tidak akan berarti apa-apa bila masyarakat sudah acuh terhadap keberadaan TNI.
Setelah 62 tahun TNI tegak berdiri dan menjadi organisasi paling solid, mampukah TNI menghadirkan solusi yang terbaik bagi bangsa yang sedang dirundung keterpurukan ini? Bukankah apa yang terbaik bagi rakyat terbaik pula bagi TNI. Dirgahayu ke-62 TNI.
Cetak Berita![]()
Email Berita![]()
Copyright © 2004 Lampung Post. All rights reserved.
In associated with Media Indonesia Online.
Comments and suggestions please email webmaster@mediaindonesia.co.id
1 komentar:
Selamat..selamat...
hehehe....
terus berkarya...
Salam dari Salatiga!
Poskan Komentar