Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Genre: Citizen Journalism

Ada yang menarik dalam rubrik Buras di Surat Kabar Harian Lampung Post hari ini, Senin (19/11). Pada rubrik tersebut Bambang Eka Wijaya menulis tentang genre baru di dunia jurnalisme, Citizen Journalism (walaupun sudah lama ada dan ditulis oleh harian Republika lebih dari seminggu yang lalu).

Pada tulisan yang berjudul Era Citizen Journalism, ia menceritakan bahwa semua orang bisa menjadi seorang jurnalis atau wartawan. Kenapa? Sebab mereka tidak terikat dengan rumus baku jurnalisme, 5W+1H (who, what, why, when, where + how). Tetapi cukup hanya dengan 3W (what, where, when), itu pun sudah menjadi sebuah berita. Menarik, dengan gaya bahasa sederhana. Itu yang menyebabkan semua orang bisa melakukannya.

Apalagi, tambah Bambang, dalam suatu community di website menunya banyak, seperti kolom, potret, makan-pelesiran, love talk, jalan sutra, greetings, urban life, kalender, dan d' blog! Dengan semua itu, wahana komunikasi baru ini cepat merebak sebagai gaya hidup.

Nah, yang menjadi masalah selanjutnya ialah jumlah orang melek internet serta akses internet di Indonesia. Saya pernah membaca salah satu guyonan dari sebuah blog, yang berbunyi: “Ada warnet koneksi bagus, tapi harganya mahal. Lalu ada warnet murah, tapi koneksinya lelet. Dan ada juga warnet murah dengan koneksi cepat”. Dari statement ini saya asumsikan bahwa akses internet masih menjadi persoalan. Beda dengan negara-negara maju, seperti di Eropa, mayoritas masyarakat sudah memiliki komputer sendiri, akses internet cepat dan mudah serta komputer publik terawat dengan baik. Sehingga teknologi tidak menjadi sebuah persoalan rumit bagi mereka.

Beralih kepada masalah politik negeri ini. Dengan citizen journalism (siapa saja menulis apa saja dan dibaca di mana saja) diyakini bisa mengubah keadaan. Daya kritis masyarakat yang terpacu sistem customer to customer (C2C), bisa mempengaruhi perkembangan masyarakat. Perubahan sosial akan berlangsung lebih cepat. Dengan citizen journalism kontrol kian kuat, hingga muncul kemungkinan mengubah pandangan menjadi negatif terhadap koruptor dan komersialisasi--terutama jabatan--hingga tak dapat tempat lagi dalam masyarakat. Tutup Bambang (Pimpinan Umum SKH Lampung Post).

Mengutip pendapat dari Wimar Witoelar :

Blog boleh dibilang bersifat komunal. Di dunia blog, transparansi dan akuntabilitas menjadi kata kunci. Seorang penulis blog tidak lagi dianggap yang paling tahu. Pendapat-pendapatnya bisa dikritisi oleh siapa pun lantaran sifat blog yang transparan. Inilah paradigma baru dari blog. ''Melalui blog akan tercipta citizen journalism, di mana setiap orang bebas berpendapat.

0 komentar: