Korting Syariah Jadi Nilai Tambah

Munculnya berbagai aliran-aliran baru di Indonesia menjadi buah bibir dan penghias indah di berbagai media cetak dan elektronik, baik daerah dan nasional akhir-akhir ini. Bukan karena aliran ini diikuti oleh kalangan pejabat atau artis. Tetapi karena aliran ini dianggap sesat dan telah menyimpang dari ajaran yang ada. Terlebih lagi belakangan diketahui bahwa aliran-aliran sesat ini telah ada lama dan sudah memiliki pengikut yang tidak sedikit jumlahnya, baik dari masyarakat biasa hingga masyarakat yang berpredikat tidak biasa, masyarakat intelektual, yakni mahasiswa.

Mestinya menjadi sebuah pertanyaan serius bagi kita semua bagaimana semua ini bisa terjadi. Ada apa sebenarnya dengan masyarakat kita. Bagaimana dengan mudahnya masyarakat dan mahasiswa bisa menerima begitu saja ajaran baru yang datang kepada mereka. Bisa jadi ini merupakan pertanda akhir zaman atau pertanda bahwa masyarakat kita tidak memahami betul apa itu Islam berikut syariat dan hakikatnya. Aneh memang sesuatu yang mendasar yang sejak kecil sudah kita pelajari saja masih saja bisa diingkari. Atau bisa jadi inilah potret umat Islam yang menginginkan surga dengan cara yang mudah, instant dan tanpa melakukan sesuatu yang sulit dan melelahkan. Lagipula siapa sih yang tidak ingin masuk surga.

Terlepas dari itu semua, yang paling mengherankan adalah tingkat penerimaan akan aliran-aliran tersebut, tidak terkecuali mahasiswa. Begitu mudahnya sebuah ajaran ditanamkan, meskipun melenceng sangat jauh dengan yang dilakukan oleh sebagian besar kelompok masyarakat. Mestinya ini menjadi sebuah ‘sentilan’ keras bagi kalangan ulama dan orang berilmu untuk dapat mencegah, paling tidak membaca, situasi yang akan terjadi. Bukan tidak mungkin ini merupakan sebuah strategi dasar yang dilancarkan oleh para pemimpin aliran tersebut. Alasannya jelas. Secara psikologis, mahasiswa memiliki emosi yang masih labil dalam hal pencarian ideologi, ditambah dengan rendahnya pemahaman tentang agama. Terlebih aliran-aliran ini memiliki ajaran-ajaran yang mudah untuk dijalani, serta menawarkan surga dengan korting syariah, seperti tidak perlu menjalankan sholat lima waktu sampai tidak mewajibkan puasa di bulan ramadhan.

Kalangan intelektual (mahasiswa, red) merupakan suatu kelompok masyarakat yang dapat dengan mudah menyebarkan kepada masyarakat luas, dengan alasan mereka merupakan kelompok yang memiliki kelebihan strata pendidikan dan pemikiran. Sehingga dapat dipastikan jika mereka menjadi pengikut aliran tersebut, hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda lainnya untuk bergabung.

Sedikit mengutip rubrik pojok pakde pakho di Harian Lampung Post beberapa hari lalu, jangan-jangan ini merupakan momen untuk membangunkan umat yang selama ini tertidur. Kalau sudah begini tidak bijaksana apabila kita mencari siapa yang patut disalahkan. Tidak hanya diperlukan sebuah pengawasan, tetapi juga sebuah guidance agar masyarakat tidak lagi terjebak kedalam aliran sesat lainnya dikemudian hari. Selain melakukan pembinaan masyakarat maupun mahasiswa dalam hal pemahaman keagamaan. Inilah pentingnya ilmu. Dengannya kita bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.

Catatan : sebuah artikel yang tidak dimuat koran :(

Leave a Reply

Terima Kasih Sudah Mau Berkunjung ke Blog ini..