Munculnya berbagai aliran-aliran baru di
Mestinya menjadi sebuah pertanyaan serius bagi kita semua bagaimana semua ini bisa terjadi.
Terlepas dari itu semua, yang paling mengherankan adalah tingkat penerimaan akan aliran-aliran tersebut, tidak terkecuali mahasiswa. Begitu mudahnya sebuah ajaran ditanamkan, meskipun melenceng sangat jauh dengan yang dilakukan oleh sebagian besar kelompok masyarakat. Mestinya ini menjadi sebuah ‘sentilan’ keras bagi kalangan ulama dan orang berilmu untuk dapat mencegah, paling tidak membaca, situasi yang akan terjadi. Bukan tidak mungkin ini merupakan sebuah strategi dasar yang dilancarkan oleh para pemimpin aliran tersebut. Alasannya jelas. Secara psikologis, mahasiswa memiliki emosi yang masih labil dalam hal pencarian ideologi, ditambah dengan rendahnya pemahaman tentang agama. Terlebih aliran-aliran ini memiliki ajaran-ajaran yang mudah untuk dijalani, serta menawarkan surga dengan korting syariah, seperti tidak perlu menjalankan sholat
Kalangan intelektual (mahasiswa, red) merupakan suatu kelompok masyarakat yang dapat dengan mudah menyebarkan kepada masyarakat luas, dengan alasan mereka merupakan kelompok yang memiliki kelebihan strata pendidikan dan pemikiran. Sehingga dapat dipastikan jika mereka menjadi pengikut aliran tersebut, hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda lainnya untuk bergabung.
Sedikit mengutip rubrik pojok pakde pakho di Harian Lampung Post beberapa hari lalu, jangan-jangan ini merupakan momen untuk membangunkan umat yang selama ini tertidur. Kalau sudah begini tidak bijaksana apabila kita mencari siapa yang patut disalahkan. Tidak hanya diperlukan sebuah pengawasan, tetapi juga sebuah guidance agar masyarakat tidak lagi terjebak kedalam aliran sesat lainnya dikemudian hari. Selain melakukan pembinaan masyakarat maupun mahasiswa dalam hal pemahaman keagamaan. Inilah pentingnya ilmu. Dengannya kita bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.
Redha Herdianto
Posted in




