Berawal dari ketertarikan saya membaca berita yang ditulis seorang rekan di website Unila tentang taksonomi, akhirnya saya memutuskan untuk menulis postingan ini. Dengan sedikit membaca dan mencari referensi lain, ada beberapa hal yang patut digarisbawahi serta dipikirkan sebagai seorang warga negara yang peduli akan kelangsungan negeri dan generasi mendatang.
Ada dua kutipan menarik yang berkaiatan dengan masalah ini.
Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, yaitu mencakup sekitar 90 tipe ekosistem, 40.000 spesies tumbuhan dan 300.000 spesies binatang (Andayani dkk. Ed 2006).
Kedua, dari sebuah artikel yang ditemukan secara tidak sengaja di mesin pencari.
Dalam dua dasawarsa terakhir ini ditengarai bahwa pemanfaatan sumber daya hayati berlangsung secara berlebihan di alam dan juga adanya perubahan habitat. Kondisi demikian ini sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian kita semua. Karena kalau dibiarkan saja, kegiatan yang tidak terkendali akan menyusutkan kekayaan keanekaragaman hayati kita.
Kedua pendapat seakan saling menguatkan bahwa negeri kita ini, Indonesia, sedang dalam proses penyusutan segala-galanya. Bukan hanya penurunan moral dan lapangan kerja, tetapi sudah jumlah luas hutan dan fauna (keanekaragaman hayati, red).
Para penebang liar dan pengeksplorasi sumber hayati kita. Pernah nggak sih mereka mikir bahwa sumber daya alam merupakan unsur yang sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa. Keanekaragaman hayati merupakan anugerah terbesar bagi umat manusia. Manfaatnya antara lain: Pertama, merupakan sumber kehidupan, penghidupan dan kelangsungan hidup bagi umat manusia, karena potensial sebagai sumber pangan, papan, sandang, obat-obatan serta kebutuhan hidup yang lain. Kedua, merupakan sumber ilmu pengetahuan dan tehnologi. Ketiga, mengembangkan sosial budaya umat manusia. Serta keempat, membangkitkan nuansa keindahan yang merefleksikan penciptanya.
Nah, kalau kekayaan hayati kita sudah musnah, lantas bagaimana dengan nasib Indonesia yang katanya negeri nan subur, gemah ripah loh jinawi. Pertanyaan ini rasanya yang paling layak dilontarkan. Bayangkan bila generasi mendatang tidak tahu bagaimana bentuknya gajah, lucu banget khan. Lalu dari tahun ke tahun areal hutan kita terus menerus menyusut.
Kalau tidak ada upaya menanggulangi kerusakan dan penggundulan hutan, boleh jadi peringatan 100 tahun Indonesia merdeka dilakukan di gurun pasir. Hutan sudah berubah wujud menjadi gurun pasir, tanpa ada kicauan burung dan auman raja hutan.