Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

LPM Republica; Milad dan Bubar



(FISIP Unila) Senin, 24 September 2007, pukul 17.00 WIB. Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Republica mengadakan acara syukuran atas milad (ulang tahun, red) ke - 17 (sweet seventeen gitu loh).

Hadir pada kesempatan tersebut beberapa staf ahli LPM Republica, yakni Rofianto, Hilal Nugraha, Ronal Regen, dan Redha Herdianto, serta Ridwan Hardiansyah dan Wawan. Tak lupa kami mengundang sesepuh pembina Republica sekaligus salah satu founding father, Cahyono Eko Sugiarto (Pak CES).

Sebagai wujud silaturahmi kami, seluruh insan pers di lingkungan Universitas Lampung juga turut diundang, antara lain: UKPM Teknora, PM Pilar, UKMF Natural, Pelita, Wehh, LSSP Cendikia, Cakrawala, Reaksi, serta crew Unila-net.

























Menunggu...

Tim redaksi website unila, resah dan gelisah, menunggu agenda rapat, pukul 14.00 WIB di ruang Pembantu Rektor IV, Ir. Anshori Djausal, M.T di ruang kerjanya, gedung rektorat lantai II Universitas Lampung.

Sejarah kelam institusi pendidikan; Sekolah

Sejarah sekolah yang membawa kita ke sistem pendidikan seperti yang sekarang kita jalani dapat dilacak kembali ditahun 1837. Pada tahun itu seorang pria bernama Horace Mann diangkat menjadi Commisioner of Education (semacam menteri pendidikan) di Amerika.

Horace Mann mempunyai latar belakang sebagai seorang pengacara. Ia tidak mempunyai anak sampai usia yang tua, dan ia sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang cara mendidik anak. Ia juga tidak memiliku konsep pemikiran yang benar mengenai bagaimana seharusnya sekolah melakukan tugasnya dalam hal mengajar dan mendidik anak.

Keberadaan sekolah dengan metode pengajaran yang ada saat itu membuat ia sangat marah dan kecewa. Hal ini disebabkan cara pengajaran yang berlaku saat itu. Dimasa itu setiap murid, yang umumnya adalah anak laki-laki, hanya diajar dengan cara meminta mereka melafalkan pelajarannya. Setelah itu murid akan diminta untuk maju kedepan kelas dan melafalkan apa yang telah dilafalkan sebelumnya. Bila murid bisa melakukannya, maka ia dianggap telah berhasil mempelajari materi pelajaran yang telah diberikan.

Horace Mann, sebagai seorang pengacara yang tulus, ulet dan tangguh segera menyadari bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ia segera melakukan perjalanan ke Eropa untuk menemukan suatu metode pengajaran yang dapat meningkatkan mutu pendidikan bagi rakyatnya. Di Eropa inilah mungkin ia bertemu dengan sistem pendidikan Prusia yang ia harapkan dapat menjawab apa yang ia cari.

Sistem Prusia, Sistem yang digunakan di Militer

Kalau kita mau sedikit jeli melacak asal usul kata kindergarten (taman kanak-kanak), maka kata ini sebenarnya bukan murni dari Bahasa Inggris. Kata kindergarten sebenarnya berasal dari Bahasa Prusia.

Sistem sekolah Prusia sebenarnya digunakan untuk mendidik tentara. Karena sistem ini berdasarkan disiplin militer, tentu saja cara pendekatannya sangat berbeda dengan cara mendidik anak dilingkungan rumah. Dan karena tujuannya untuk menghasilkan tentara, maka sistem ini sudah dirancang sedemikian rupa untuk menggagalkan paling tidak 70 persen dari siswa yang mengikuti pendidikan di sekolah ini. Mengapa demikian?

Bisa anda bayangkan bila ternyata ada seribu orang yang mengikuti pendidikan ini. Pada saat tamat sekolah tentu tidak mungkin 1000 orang ini akan jadi jenderal semua. Kalau semua jadi perwira tinggi atau menengah semua, lalu siapa yang akan bertempur dimedan perang? Tentu saja dibutuhkan tentara-tentara dengan pangkat rendah. Oleh karena itu, sistem sekolah ini dirancang untuk memberikan tes atau ujian. Mereka yang tidak berhasil mengerjakan tes tentu saja akan sulit untuk naik ke level yang lebih tinggi. Jadi, sistem ini memang dari awal sudah dirancang untuk menyaring atau menggagalkan muridnya.

Gunung; sebuah misteri keindahan

Menurut The Smithsonian Institutions, Volcanoes of the World (1981), terdapat sekitar 1.300 gunung berapi aktif di dunia. Dari jumlah itu 220 diantaranya ada di Indonesia. Negara kepulauan ini memang memiliki jalur gunung berapi berbentuk bulan sabit dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan naik ke Laut Banda dan Sulawesi Utara. Di Indonesia, dari 80 letusan gunung berapi dalam sejarah belakangan, kebanyakan (22) terjadi di Pulau Jawa.

Encyclopedia Brittanica menyebutkan bahwa letusan gunung berapi sejak 1700-an telah membunuh 250.000 orang.

Dua letusan terbesar terjadi di Indonesia. Pertama, letusan gunung Tambora di Sumbawa pada tahun 1815. Sebelum letusan tinggi gunung 4.300 meter, setelah letusan tinggal 1.400 meter yang kemudian membentuk kaldera. Sekitar 10.000 orang tewas akibat letusan dan tsunami. Kerusakan pertanian menyebabkan kelaparan yang menambah korban dengan 82.000 orang.

Letusan kedua, tentu gunung Krakatau, tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1883. Pulau Krakatau seluas 23 km/persegi menghilang setelah letusan yang melontarkan debu setinggi 80 km dan suara ledakannya terdengar hingga Australia, 4.800 km jauhnya. Letusan dan tsunami yang mengikutinya menewaskan 36.000 jiwa di pantai Jawa dan Sumatera.

Welcome Ramadhan; untuk perdamaian

Marhaban, ya Ramadhan. Begitulah sambutan umat Islam yang beriman saat menyambut bulan suci Ramadhan 1428 Hijriah. Di mana-mana diserukan kepada umat Islam untuk meningkatkan ibadah, zakat, dan amal saleh. Di bulan yang suci ini, umat Islam melakukan kegiatan ibadah yang amat agung sebagai latihan diri dari segala perbuatan kemungkaran dan kemaksiatan.

Kamis, 13 September, berdasarkan ketetapan dari Departemen Agama yang dibuat setelah mendengarkan masukan dari berbagai ormas Islam dan kesaksian di 45 lokasi pemantauan di seluruh Indonesia. Sidang isbath pada Selasa (11/09) dihadiri oleh perwakilan dari pihak Menkominfo MUI, PBNU, PP Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia, Ketua Komisi VIII DPR, Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama, serta wakil dari berbagai ormas Islam.

Maftuh Basyuni, Menteri Agama RI mengatakan "Saat ini semua sudah punya arah yang sama, tetapi memang ada kekhawatiran awal Syawal bisa tidak sama. Karena itu, kami berharap akan segera ada kriteria yang bisa disepakati bersama yang akan dipakai dalam sidang isbat. Kami berharap kriteria yang diharapkan itu bisa segera terwujud agar persatuan umat tetap terjaga," ujarnya.

Dalam kondisi ini, kata kunci yang sering dilupakan dalam memaknai Ramadhan ialah toleransi dan kedamaian. Padahal, nilai toleransi dan kedamaian memiliki kaitan amat erat di bulan Ramadhan. Bukankah Islam di Indonesia ialah agama yang dipeluk mayoritas penduduk. Maka, sebulan penuh di bulan Ramadhan seakan menjadi milik umat Islam. Warnanya seakan menjadi satu, islami.

Karena itu, toleransi sebagai paradigma awal menuju cita-cita kedamaian dan perdamaian menjadi sesuatu yang amat penting, tentang bagaimana kelompok non-Muslim menghargai umat Islam yang berpuasa, sebaliknya umat Islam menghargai non-Muslim yang tidak berpuasa.

Hubungan timbal balik ini merupakan spirit bagi berbagai upaya untuk selalu menghargai dan memelihara kedamaian. Karena itulah, Ramadhan memiliki signifikansi yang jelas dalam upaya memperkuat toleransi dan ikut mendorong terciptanya perdamaian saat gejolak, pertikaian antarkelompok, aliran, dan agama.

Berpijak kepada kondisi inilah, perdamaian yang sejati seharusnya menjadi paradigma fundamental dalam pergaulan antarsesama umat manusia meski berbeda suku, bangsa, dan agama. Sebab, perdamaian merupakan cita-cita bersama umat manusia. Cita-cita ini dapat terwujud jika umat manusia memiliki kesadaran tentang toleransi dan adanya keadilan (kesetaraan) dalam kehidupan sosial.

Ajaran puasa di bulan Ramadhan, seperti pernah diungkap Ismail al-Faruqi, adalah latihan terbaik dalam seni mengendalikan diri (the art of self mastery). Artinya, latihan untuk mengendalikan diri ini harus tercermin dalam gerak selanjutnya, bukan sekadar terjadi di bulan Ramadhan. Ajaran puasa—menahan lapar, minum, berhubungan seksual, dan menahan sifat marah, benci dan dengki—adalah sebuah latihan untuk mengendalikan diri dari godaan untuk berbuat yang menimbulkan permusuhan.

Meminjam pengertian dari Khamami Zada, seorang dosen di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, disinilah, kita dituntut untuk selalu memaknai Ramadhan dalam konteksnya yang paling aktual agar tidak sekadar menjadi ibadah simbolik, tetapi benar-benar substansial, yaitu untuk ibadah dan kedamaian.

Selamat Datang Penerusku



Apa yang menjadi sebuah parameter bahwa sebuah institusi itu hidup dan diakui oleh kalangan lain. Apakah ketenaran bisa diperoleh hanya disebabkan oleh sebuah kekosongan dan kehidupan yang tiada berteman. Tidak mungkin akan hadir seorang penguasa besar dan pemimpin dunia yang tidak didasari oleh kekuatan berpikir dan kematangan bertindak di saat-saat kritis.

Lalu bagaimana untuk mencetak dan mendapatkan orang-orang yang seperti itu ?

Itulah gunanya didirikan yang namanya sekolah-an dan kampus. Terlebih lagi di Universitas Lampung (Unila), dimana lagi klo bukan di McD (eh bukan ding, salah), dimana lagi kalo bukan di FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), bukan Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet lho.

Sebanyak kurang lebih 400-an mahasiswa FISIP angkatan 2007 dengan mengenakan kaos berwarna orange duduk rapi di pelataran parkir gedung D FISIP. Mereka tidak sedang melakukan demontrasi menuntut biaya SPP yang murah, tetapi mereka sedang mengikuti sebuah rangkaian acara yang diadakan oleh BEM Fakultas FISIP Unila dalam rangka penyambutan mahasiswa yang diberi nama FISIP EXPLORATION 2007 dengan mengangkat tema “Kreativitas Dalam Kebersamaan Menuju FISIP Satu Takkan Terkalahkan”.

FISIP SATU memang sudah menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena ini memang sudah menjadi tradisi, dimana anak-anak baru harus dicekoki dengan doktrin tentang ke-fisip-an, dan semua yang berhubungan dengan Fisip Unila itu sendiri, mulai dari sejarah, kebiasaan maupun nilai-nilai yang harus dimiliki, diangkat dan dikembangkan oleh generasi muda Fisip. Tetapi ada yang berbeda (dan aneh dalam pandanganku) disini. Sebab kegiatan yang dulu lazim disebut dengan keakraban fakultas ini jauh lebih santai dan moderat. Anak-anak baru tersebut duduk dengan santainya (sembari ngobrol dan jalan-jalan) tanpa ada pengawasan ketat dari para senior dan panitia kegiatan.
Apakah FISIP akan kehilangan daya cengkramnya. Apakah anak-anak Fisip akan diajari untuk tidak menjadi disiplin dan tidak dapat mengatasi keadaan dalam tertekan. Apakah tradisi sudah berubah lantaran tidak ada moment yang layak untuk diperjuangkan. Apakah mahasiswa hanya akan menjadi kader yang datang-duduk-diam- lalu pulang. Apakah.....?????????????
Bagaimana pun keadaannya, ku ucapkan selamat datang kader-kader muda Fisip. Berjalanlah kalian dengan rasa bangga di dalam dada kalian karena kalian sudah memiliku status mahasiswa Fisip Unila dan memegang selembar kertas berbentuk persegi dengan nomor urut 07160xxxxx.
Dan bernyanyilah dengan suara lantang : *Mars FISIP Unila*
Hiduplah Fisipol Unila
Pengemban cita-cita luhur bangsa
Penuh kreasi karya cipta karsa
bagi Indonesia jaya
Majulah maju
Fisipol Unila
Abadi sepanjang masa
Majulah maju
Fisipol Unila
Abadi sepanjang masa

Situs Lampung Post-Online di Hack


Rabu, 5 September 2007 sejak pagi hingga pukul 10.45 situs koran harian Lampung Post berubah tampilannya menjadi halaman lain yakni berbuah menjadi gambar tengkorak, dengan dua pedang pendek di belakangnya dalam posisi menyilang. Teknik ini dalam dunia hacker disebut dengan deface (mengganti tampilan muka dari sebuah situs).

Defacing terhadap situs ini baru diketahui pagi harinya, ketika seorang rekan, seperti biasa mengecek berita terbaru pada pagi hari itu. Selanjutnya, defacer (orang yang melakukan aksi deface) ini menamakan dirinya KoT4bUmI-H4cKer memberikan sedikit pesan-pesan sosial (lazimnya hacker-hacker yang lain), serta menuliskan header pada atas gambar yang berbunyi "Surat Kabar Yang Penuh Dengan Kepalsuan dan Kebohongan", dan tulisan yang ditujukan kepada pihak kepolisian yang menurutnya turut serta berperan dalam keadaan ini. Pada bagian akhir sang defacer menuliskan kata-kata yang kurang saya mengerti ;-)

fucking for all police in lampung i don't like you all

special thanks to my schatzi in lampung from adhietslank
thank's all for my friends

Kim Yager 3128 Longview Dr Collinsville VA 24078 United States of America Mastercard 5146160013455791 01/2010 181

Jan Oliver 10 Club Drive Newnan GA 30263 American Ezpress 373990606471014 03/2007 4013 Name on Card Jan M. Oliver