Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Empat dosa media

Melanjutkan postingan sebelumnya ..... (read here)

Dosa akibat kesalahan penyimpangan oleh media massa, dalam konteks Indonesia, oleh Sasa Djuarsa Sendjaja dinyatakan - bukan seven deadly sins - ada empat dosa yang seringkali dilakukan oleh media massa sebagai efek dari kebebasan dan independensi media.

Pertama, adalah terjadinya eksploitasi judul. Kedua, tersebarnya berita "konon kabarnya"; Ketiga, terbentuknya dominasi opini elit dan kelompok mayoritas; dan keempat, penyajian informasi yang tidak investigatif.

Media massa yang tidak bertanggung jawab dan tidak memiliki idealisme pers yang baik, seringkali melakukan upaya menarik perhatian publik dengan eksploitasi judul yang kadang tidak pantas dan agak tabu. Misalnya sebuah koran kuning yang pernah terbit di Lampung, Koran Lampu Merah namanya, suatu ketika pernah memberitakan tentang penjaringan PSK oleh Dinas Tramtib dengan judul "Dijaring, Dipake abis itu dilepas diangkut lagi, trus dipake lagi" (untuk memberitakan situasi pelecehan seksual yang dialami oleh PSK tersebut oleh salah satu oknum). Lalu judul-judul lain yang mengandung unsur SARA. Inilah yang disebut dengan EKSPLOITASI JUDUL, ini sering digunakan oleh media dalam menarik perhatian walaupun sifatnya yang agitatif, emosional, dan seronok.

Sementara, sumber berita "konon kabarnya" merupakan hal yang bertentangan dengan prinsip objektifitas dalam jurnalistik karena hanya menjelaskan opini, fakta, atau ilustrasi menurut sumber yang tidak mau disebut namanya. Sumber berita "konon kabarnya" ini bisa menjadi sebuah proses pemfiksian terhadap informasi aktual. Memang dibenarkan dalam prinsip jurnalistik untuk menjaga rahasia narasumber (dengan nyawa si jurnalis kalau perlu) apabila informasi yang disampaikan bersifat rahasia dan off the record, dengan syarat berita yang diangkat bersifat investigatif dan menyangkut kepentingan publik secara keseluruhan. Apabila hanya sifatnya kegiatan ceremonial atau demonstrasi sebisanya dilakukan negosiasi untuk pencantuman nama narasumber.

Sedangkan dominasi opini elit dan kelompok mayoritas apabila benar-benar terjadi dalam media massa, bisa menjadi ancaman bagi pembentukan ruang publik yang demokratis, yang terbuka bagi semua lapisan publik. Dengan dominasi ini kalangan minoritas yang dibawah tidak akan bisa bersuara. Ini mengingatkan kita semua pada masa orde baru yang mengharuskan adanya pem-filter-an informasi bagi masyarakat. Dominasi elit sangat kental terasa, rasa demokrasi hanya sebuah slogan kosong tanpa isi.

Di sisi lain pola penyajian informasi sebagian besar media massa kurang bersifat investigatif. Penyajian informasi yang tidak investigatif seperti ini membuat media massa berkutat pada berita trivialistik yang menengahkan gosip, seks, kekerasan, dan hiburan sebagai daya pikat utamanya kepada publik. Ditambah lagi dengan maraknya acara infotainment serta digunakannya istilah investigasi oleh sebagian mereka. Sebenarnya hakikat sebuah berita investigasi ialah menyangkut kepentingan publik keseluruhan, apalagi proses pencariannya bisa memakan waktu lama dan mempertaruhan keselamatan diri sendiri demi sebuah kebenaran kepada masyarakat. Tayangan berita yang bersifat sensasional dan trivalistik macam infotainment, sebenarnya, membuat publik tidak mendapat informasi atau berita yang dapat dipercaya. Bukan sebuah karya jurnalistik sesungguhnya - sebagian jurnalis menganggapnya jurnalisme semu - dan hanya berpihak kepada kepentingan bisnis semata.

1 komentar:

Monitor de LCD mengatakan...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Monitor de LCD, I hope you enjoy. The address is http://monitor-de-lcd.blogspot.com. A hug.