Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Blog and Grassroots Journalism

 

Pada masa kini yang kita bicarakan adalah konten.Pada masa kini, trend jurnalisme yang ada adalah apa yang disebut sebagai multi-platform journalism seperti teks, gambar, video, dan hal itu bisa dikerjakan oleh satu orang saja. Itu trend-nya ke depan.

Riza Primadi

Satu hal yang ditawarkan oleh jurnalisme modern yang diusung internet ialah penyampaian informasi dengan sangat cepat dan massif dibanding media massa lain. Jurnalisme yang dilakukan oleh media cetak dan audio bukan lagi menjadi sesuatu yang menarik belakangan ini. Platform jurnalisme yang berkembang saat ini adalah jurnalisme yang berbasis kepada penggunaan teknologi internet. Salah satunya yang sempat menjadi kontroversi fenomenal adalah penggunaan weblog.

Weblog kini beralih fungsi menjadi ruang publik, dalam artian setiap orang yang memiliki akses internet (dan ini salah satu kelemahannya) berhak masuk dan terlibat didalamnya. Ini memungkinkan siapa pun tanpa perlu persyaratan dan birokrasi bisa menyuarakan opini dan pendapatnya terhadap sesuatu secara bebas dan terbuka. Pendek kata, blogger (pengguna blog, red) yang oleh Dan Gilmor, dalam bukunya, We the Media: Grassroots Journalism by the People for the People, memunculkan sebuah definisi swa-jurnalisme.

Dengan swa-jurnalisme, blogger dapat menyebarkan opini-nya, pendapat pribadi atau orang lain, menjadi narasumber bahkan dapat menayangkan sebuah kejadian dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh media lain macam koran dan televisi, karena ada batasan kebijakan perusahaan dan stakeholders. Dengan swa-jurnalisme, sebuah peristiwa tidak lagi menjadi monopoli jurnalisme media cetak dan elektronik.

Dalam melihat ini, salah satu dari sembilan elemen jurnalisme bisa jadi makin tepat dan memperluas artinya. Masyarakat dianggap sudah pintar untuk memilih informasi apa yang diinginkannya. Jurnalisme akar rumput (Grassroots Journalism) ini akan menjadi salah satu alternatif kuat untuk mencari informasi yang bebas nilai tanpa ada keberpihakan pencari berita dengan kepentingan ekonomi dan politik. 

Jika jurnalisme akar rumput dengan mudah menawarkan sebuah siklus pemberitaan secara lebih demokratis dan partisipatif, maka ini menjadi sebuah tantangan yang harus dijawab sesegera mungkin oleh jurnalisme media cetak dan elektronik agak bisa ber-inovasi lebih baik dari sekarang serta dapat bersaing dengan media weblog yang kian hari berkembang makin pesat.

0 komentar: