Ibaratnya stalagmit yang dibentuk dari mineral setetes setetes demi dalam waktu sangat lama, puluhan bahkan ratusan tahun, menjadi sebuah stalagmit yang besar. Begitu pula dengan sebuah kebenaran media. Untuk membentuknya membutuhkan proses yang lama. Kebenaran dibentuk lapisan demi lapisan, setiap hari. Tapi dari kebenaran sehari-hari ini pula terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap.
Walau elemen ini disebut-sebut sebagai elemen yang paling membingungkan tetapi justru elemen ini yang paling banyak menarik perhatian (dan paling lama bila didiskusikan). Kenapa? Sebab kebenaran antara satu pihak bisa dipandang berbeda dengan pihak yang lainnya lagi. Kebenaran bagi kalangan pesantren bisa jadi salah dimata kalangan ilmuwan. Kebenaran bagi umat Islam bisa berbeda dengan kebenaran oleh umat Kristen. Kebenaran memiliki ideologi dan dasar pemikiran yang sangat berbeda pada tiap-tiap kelompok, berdasarkan latar belakang sosial, pendidikan, lingkungan, kewarganegaraan, etnis dan agama.
Jadi kebenaran menurut siapa dan kebenaran yang mana yang paling benar dan bisa dipakai?
Dalam sembilan elemen jurnalisme, Kovach dan Rosenstiel menerangkan bahwa kebenaran yang bisa dipakai oleh seorang jurnalis ialah KEBENARAN FUNGSIONAL. Ini bukanlah kebenaran dalam tataran filosofis, tetapi lebih dilihat dari fungsi seseorang/subjek. Dalam dunia jurnalistik semua kebenaran itu bisa saja salah dan seharusnya bisa selalu direvisi. Sebagai contoh apabila ada polisi menembak penjahat, itu merupakan kebenaran fungsional. Lho kok? Sebetulnya pekerjaan membunuh atau mengakhiri hidup seseorang merupakan kesalahan yang dilakukan oleh manusia, tetapi polisi tersebut bertindak sebagai seorang polisi yang memang bertugas untuk membasmi penjahat. Jadi bisa disimpulkan bahwa bila ia bertindak selaku polisi merupakan tindakan yang benar. Tinggal dilihat apa alasan polisi tersebut menembak, apakah untuk membela diri, latihan menembak atau ada unsur lain dalam insiden tersebut. Hal ini yang disebut dengan membentuk kebenaran lapisan demi lapisan.
Contoh lain yang diberikan oleh Kovach dan Rosenstiel adalah tabrakan lalu lintas. Hari pertama seorang wartawan memberitakan kecelakaan itu. Di mana, jam berapa, jenis kendaraannya apa, nomor polisi berapa, korbannya bagaimana. Hari kedua berita itu mungkin ditanggapi oleh pihak lain. Mungkin polisi, mungkin keluarga korban. Mungkin ada koreksi. Maka pada hari ketiga, koreksi itulah yang diberitakan. Ini juga bertambah ketika ada pembaca mengirim surat pembaca, atau ada tanggapan lewat kolom opini. Demikian seterusnya.
Dari sini sudah bisa disimpulkan apa itu kebenaran fungsional. Dan tugas wartawan berada pada tekanan yang jelas yaitu memilih kebenaran.
Sumber : pantau.or.id
0 komentar:
Poskan Komentar