Meneruskan artikel yang lalu : Sinetron = moral masyarakat Indonesia
Televisi, terutama televisi swasta komersial, terkesan tidak proporsional. Televisi swasta komersial (seperti) tidak mencerdaskan dan memarakkan budaya konsumtif. Mereka menuhankan pasar, menjual penonton pada peng-iklan dan merampas waktu belajar anak. Kritik ini berangkat dari satu harapan, bahwa sebagai media-massa yang memasuki ruang tamu keluarga tanpa diundang, televisi swasta komersial mestinya menghormati nilai-nilai agama dan budaya masyarakat.
Kita suka lupa, bahwa sistem komersial, televisi publik dan televisi komunitas. Sumber pendanaan, misi, dan khalayak sasaran ketiganya berbeda. Lantas, apakah demi pasar, televisi swasta komersial tidak lagi bertanggungjawab pada masyarakat ?
Atau jangan-jangan sinetron Indonesia memang menunjukkan kondisi real masyarakat kita yang ingin hidup serba instan, konsumtif, egois sekaligus egosentris, cengeng, munafik dan menunjukkan cara berpikir yang sangat naif. Sinetron kita terlalu membuai masyarakat dengan mimpi-mimpi yang (kadang) nggak masuk akal, lebih parahnya mereka para produsen sinetron menggunakan tameng kebebasan pers sebagai cara untuk mengakali batasan dalam dunia penyiaran.
Memang tidak semua sinetron kita memiliki pengaruh buruk, ada juga yang positif, walaupun hanya dalam kisaran 1 diantara 10 judul. Tapi paling tidak kita semua memiliki harapan bahwa fenomena ini bergerak ke arah positif dan lebih baik.
Televisi, terutama televisi swasta komersial, terkesan tidak proporsional. Televisi swasta komersial (seperti) tidak mencerdaskan dan memarakkan budaya konsumtif. Mereka menuhankan pasar, menjual penonton pada peng-iklan dan merampas waktu belajar anak. Kritik ini berangkat dari satu harapan, bahwa sebagai media-massa yang memasuki ruang tamu keluarga tanpa diundang, televisi swasta komersial mestinya menghormati nilai-nilai agama dan budaya masyarakat.
Kita suka lupa, bahwa sistem komersial, televisi publik dan televisi komunitas. Sumber pendanaan, misi, dan khalayak sasaran ketiganya berbeda. Lantas, apakah demi pasar, televisi swasta komersial tidak lagi bertanggungjawab pada masyarakat ?
Atau jangan-jangan sinetron Indonesia memang menunjukkan kondisi real masyarakat kita yang ingin hidup serba instan, konsumtif, egois sekaligus egosentris, cengeng, munafik dan menunjukkan cara berpikir yang sangat naif. Sinetron kita terlalu membuai masyarakat dengan mimpi-mimpi yang (kadang) nggak masuk akal, lebih parahnya mereka para produsen sinetron menggunakan tameng kebebasan pers sebagai cara untuk mengakali batasan dalam dunia penyiaran.
Memang tidak semua sinetron kita memiliki pengaruh buruk, ada juga yang positif, walaupun hanya dalam kisaran 1 diantara 10 judul. Tapi paling tidak kita semua memiliki harapan bahwa fenomena ini bergerak ke arah positif dan lebih baik.
0 komentar:
Poskan Komentar