Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dijalani ... (Socrates)
Buntut dari peristiwa yang terjadi kemarin lalu - saat diskusi terbuka Blogger vs Roy Suryo - kemarin, sempat membuat saya agak trenyuh dan melakukan flashback pemikiran. Kenapa sampai blogger bisa disamakan dengan hacker (mungkin lebih tepatnya cracker). Meski, om Roy berkata bahwa itu hanya sebuah 'salah kutip' dari media, tetapi tetap saja saya berpikir ada apa sih dengan dua subjek kata tersebut. Dan kenapa pula seorang blogger sempat diberi cap negatif bahkan penipu.
Kembali ke masalah flashback pemikiran saya. Satu hal yang mesti saya kembali azzam-kan (baca: teguh-kan dalam hati) ialah kenapa sih saya sampai nge-blog. Apakah hanya sebuah kebetulan atau sekadar ikut trend sesaat (kata Roy Suryo :P). Saya katakan bahwa itu semua tidak benar. Saya menjadi blogger lebih kepada sebuah wacana untuk menuliskan semua pemikiran yang sempat terlintas di benak saya, dan saya takut untuk kehilangan momen tersebut. Lagipula semua pemikiran, pengalaman serta ide (walaupun kecil) tetap harus direfleksikan kedalam sebuah media yang bisa dan memungkinkan untuk diambil hikmahnya secara pribadi maupun lain personal. Sebuah kata bijak bahwa guru terbaik adalah pengalaman bisa jadi benar dengan manifesto ini. Kalaupun pengalaman saya tidak bisa menjadi seorang 'guru' bagi saya, mungkin lain artinya bagi orang lain.
Lebih lagi, berefleksi bukanlah persoalan yang gampang. Ia membutuhkan kesunyian, jauh dari hiruk-pikuk keseharian. Kontemplasi dalam kesunyian pun hanya optimal ketika ada kejujuran dan kemampuan mengkonfrontasikan pengalaman yang personal sifatnya dengan nilai-nilai profesi dan hati nurani (Iskandar Siahaan, Kepala Litbang Pemberitaan SCTV).
Ini menjadi menarik manakala seorang blogger berangkat dari menuangkan pemikiran sampai pengalaman sehari-hari dengan jujur dan terbuka, dengan sikap membuka diri untuk menerima saran bahkan kritik dari semua tulisan yang dia buat. Menandakan bahwa blogger itu seharusnya rendah hati dan yakin bahwa bukan dia yang mengetahui kebenaran hakiki. Dia (blogger, red) bisa saja salah dan tidak selalu benar. Lalu, bagian mana yang disebut dengan kegiatan yang merusak hasil karya orang lain, seperti deface dan lain-lain. Kalaupun ada satu atau dua orang cracker yang secara kebetulan memiliki sebuah blog, lantas apakah bisa dipukul rata kalau semua blogger itu adalah cracker. Dengan analogi seperti ini, di banyak bengkel banyak motor ber-merk Honda yang di-service. Apakah bisa dikatakan bahwa motor Honda mudah rusak. Tidak. Lebih dikarenakan pasar motor Honda lebih lama di Indonesia sehingga sebagian besar masyarakat memiliki motor jenis ini dibanding dengan merk lain. Begitu pun dengan blogger, tidak bisa melakukan generalisasi secara serampangan hanya karena satu dua kasus.
Baggini (2003 : 34-35) seperti dikutip dalam buku Jurnalisme Liputan 6 SCTV berpendapat bahwa :
Kita harus berhati-hati untuk tidak menyatakan dengan keyakinan absolut bahwa hanya kita sendirilah yang mengetahui kebenaran. Kita harus menerima bahwa kebanyakan dari apa yang diterima sebagai pengetahuan tidak dapat dibuktikan di atas semua keraguan. Yang dapat kita lakukan adalah memikirkan baik-baik tentang apa yang ditunjukkan oleh bukti dan mencapai kesimpulan kita berdasarkan hal itu, dan selalu mengingat bahwa kita bisa salah.
0 komentar:
Poskan Komentar