Dahulu banyak suratkabar yang menjadikan ruang tamu mereka sebagai forum publik di mana orang-orang bisa datang, menyampaikan pendapatnya, kritik, dan sebagainya. Di sana juga disediakan cerutu serta minuman.
Kovach dan Rosenstiel
Logikanya, manusia itu punya rasa ingin tahu yang alamiah. Dengan jurnalisme rasa itu justru dipompa lebih keras untuk keluar ke permukaan. Bila media melaporkan kejadian dan masyarakat pun bereaksi terhadap laporan-laporan tersebut dalam waktu yang tidak begitu lama surat kabar akan dipenuhi dengan komentar-komentar, mungkin lewat kolom opini, surat pembaca, talk show, bincang-bincang di warung kopi, tulisan pribadi di blog semacam ini, atau ruang tamu suratkabar dan sebagainya.
Pada gilirannya komentar-komentar ini didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik dan sebagai media pemantau kekuasaan sangatlah penting karena lewat komentar dan forum seperti inilah agenda kebijakan dan demokrasi (mudah-mudahan) bisa ditegakkan.
Adalah perkembangan teknologi modern yang pesat dan massif cukup menjadi sebuah kekhawatirkan dari forum semacam ini. Memang teknologi membuat kecepatan forum menjadi lebih cepat menyebar dan diserap masyarakat, tetapi efek sampingnya terjadi distorsi maupun informasi yang menyesatkan yang potensial merusak reputasi jurnalisme. Bahkan terbentuk sebuah "jurnalisme semu" yang tampilan awalnya mirip dengan karya jurnalisme tetapi pada hakikatnya hanyalah sebuah sandiwara yang sengaja dibuat dengan tujuan hiburan semata.
Kovach dan Rosenstiel berpendapat jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu,” yang mengadakan debat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau melakukan provokasi.
sumber : pantau online
Tulisan terkait :
0 komentar:
Poskan Komentar