Setelah mempelajari elemen keempat maka kini kita akan memasuki elemen jurnalisme selanjutnya, yang kelima yakni jurnalistik untuk memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas.
Seperti kita sadari dari awal mula perintis jurnalistik di Indonesia bahwa mereka melakukan kegiatan jurnalistik untuk mewartakan kebenaran, membangun semangat masyarakat untuk berjuang sekaligus mencerdaskan bangsa melalui pemberian berita yang memang layak diberitakan. Mereka tidak berhenti untuk keuntungan materi semata serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak tunduk kepada penguasa pada masa tersebut. Mereka melakukan apa yang disebut dengan 'memantau kekuasaan'. Memantau kekuasaan bukan berarti melukai mereka yang hidupnya nyaman. Memantau kekuasaan dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi.
Sebagai contoh apabila ada pejabat publik yang dengan sengaja melakukan penyelewangan terhadap tanggung jawabnya, bukan lantas kita latah untuk memojokkannya, hanya sebatas memberitakan yang seperlunya saja. Serta menyambung lidah yang tertindas dengan memberitakan apa yang dirasakan oleh masyarakat 'akar rumput' yang suaranya kadang tidak bisa 'didengar' langsung, maka harus kita (jurnalis, red) lewat tulisan agar bisa dibaca oleh semua pihak berwenang.
Sumber : pantau online
Tulisan terkait :
0 komentar:
Poskan Komentar