Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Elemen ketiga; verifikasi

“There is but one kind of unity possible in a world as diverse as ours. It is unity of method, rather than aim; the unity of disciplined experiement (Ada satu hal yang bisa disatukan dalam kehidupan yang berbeda-beda ini. Hal itu adalah keseragaman dalam mengembangkan metode, ketimbang sebagai tujuan; seragamnya metode yang ditarik dari pengalaman di lapangan).”

Walter Lippmann

Disiplin dalam melakukan verifikasi membuat seorang wartawan mampu melakukan penyaringan terhadap desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi serta dapat mendapatkan informasi yang akurat. Hal ini yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi dan seni. Hanya fakta yang diangkat, bukan apa yang ingin didengar oleh masyarakat. Jurnalisme meliput kepentingan masyarakat meskipun isinya baik ataupun buruk. Inilah esensi dari jurnalisme yang sesungguhnya.

Lantas bagaimana dengan beragamnya standar jurnalisme? Tidakkah disiplin tiap wartawan dalam melakukan verifikasi bersifat personal? Bahkan setiap wartawan tidak memiliki standar minimal verifikasi yang sama. Secara tidak sengaja konsep ini mengalami distorsi dengan apa yang disebut objektifitas.

Kovach dan Rosenstiel menjelaskan, pada abad XIX tak mengenal konsep objektifitas itu. Wartawan zaman itu lebih sering memakai apa yang disebut sebagai realisme. Mereka percaya bila seorang reporter menggali fakta-fakta dan menyajikannya begitu saja maka kebenaran bakal muncul dengan sendirinya. Ide ini memunculkan apa yang disebut dengan konsep piramida terbalik. Mereka berpendapat struktur itu membuat pembaca memahami berita secara alamiah.

Bagi Lippmann, jurnalisme tak cukup hanya dilaporkan oleh “saksi mata yang tak terlatih.” Niat baik atau usaha yang jujur juga tak cukup. Solusinya, wartawan harus menguasai semangat ilmu pengetahuan. Baginya, metode jurnalisme bisa objektif. Tapi objektifitas ini bukanlah tujuan. Objektifitas adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. Sayang, dengan berjalannya waktu, pemahaman orisinal terhadap objektifitas ini diartikan keliru yang pada gilirannya akan menganggap objektifitas sebagai ilusi.


Bagaimana metode yang objektif itu bisa dilakukan? Kovach dan Rosenstiel menerangkan betapa kebanyakan wartawan hanya mendefinisikan hanya sebagai dengan liputan yang berimbang (balance), fairness serta akurat. Tapi berimbang maupun fairness adalah metode. Bukan tujuan. Keseimbangan bisa menimbulkan distorsi bila dianggap sebagai tujuan. Kebenaran bisa kabur di tengah liputan yang berimbang. Fairness juga bisa disalahmengerti bila ia dianggap sebagai tujuan. Fair terhadap sumber atau fair terhadap pembaca?

Sumber: pantau.or.id

Tulisan terkait :

Sembilan elemen jurnalisme

Elemen pertama; kebenaran

Elemen kedua; loyalitas

0 komentar: