Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Jurnalisme Semu

Karya jurnalistik yang sedang ramai digelar oleh banyak stasiun televisi, baik milik pemerintah maupun swasta, ialah program acara yang mengakomodasi debat publik. Umumnya selalu saja berkenaan dengan permasalahan politik dalam negeri, Indonesia. Bisa jadi ini merupakan sinyalemen bahwa demokrasi di negeri ini. Tetapi semua program yang idealnya ajang penyampaian aspirasi ini bila dibenturkan dengan konsep bisnis dan televisi swasta yang lebih bersifat entertaint(menghibur), kadang kuantitas tidak berjalan harmonis dengan kualitas.

Dalam artian tidak semua acara itu merupakan sebuah jurnalisme yang sesungguhnya mengungkapkan 'isi hati' masyarakat. Menurut Kovach dan Rosenstiel jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu,” yang mengadakan debat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau melakukan provokasi. Meskipun tidak sedikit yang berpikiran bahwa jurnalisme semu tersebut sedikit banyak memberikan sebuah pencerahan dan wawasan baru dalam memandang permasalahan politik yang sedikit membingungkan. Sebagai contoh program acara Republik Mimpi yang disiarkan Indosiar.

Munculnya jurnalisme semu itu terjadi karena kebebasan media massa yang menyebabkan debatnya tak dibuat berdasarkan fakta-fakta secara memadai. Jurnalisme semu juga muncul karena gaya lebih dipentingkan ketimbang esensi. Secara prinsip jurnalisme macam ini justru memperlebar nuansa perdebatan kepada permasalahan yang lebih sengit, fokus akan tertuju kepada isu-isu yang lebih sempit dan terpolarisasi. Akhirnya sebuah upaya kompromi guna mencari solusi akan sia-sia.

Tulisan terkait :

Elemen keenam; forum publik

Menajamkan Prinsip Dasar Jurnalisme

0 komentar: