Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Bahan bakar SASOL

Seminggu yang lalu sempat 'silaturahmi' ke ruang baca FISIP Unila, selain untuk ngisi absen dan sekedar menengok keadaan kampus juga minjem beberapa buku yang (kadang-kadang) sebagai teman tidur, maksudnya ditaruh disamping bantal waktu tidur dan gak dibaca. Tapi terakhir kesana aku nge-liat buku yang dari judulnya saja sudah menarik, AFRIKA SELATAN; Catatan Sebuah Perjalanan di Bumi Nelson Mandela.

Buku terbitan HUMANIORA tahun 2002 karangan T. Hasan Basri yang mantan kepala Humas PJKA ini bersampul hitam dengan foto artistik yang menggambarkan keadaan dan budaya masyarakat Afrika Selatan. Pada dasarnya buku ini hanya menceritakan sebuah catatan perjalanan dari sang penulis yang (sempat) melakukan kunjungan beberapa minggu di Afrika Selatan, sekedar menceritakan betapa dekatnya ia dengan anak cucunya dan keadaan disekitar rumah dan kedutaan Indonesia disana. Tapi ada satu subbab yang saya sukai dan saya cermati benar-benar yakni keberhasilan Afrika Selatan mengembangkan sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM).

Sumber energi alternatif tersebut ialah SASOL. Bahan bakar ini dibuat dari batubara. Dijelaskan karena AfSel kaya akan bahan tambang batubara mereka berhasil mengolah batubara menjadi bahan bakar kendaraan dan kebutuhan industri lainnya. Lokasi industri SASOL terdapat di Vereeniging dan Secunda.

Menariknya awal mula pengembangan ini dimulai dari sebuah keterpaksaan keadaan. Pada masa apartheid, negara Afrika Selatan tidak disukai oleh hampir semua negeri lain di dunia. Ini terjadi karena politik membedakan warna kulit (rasialis dan diskriminatif) antara putih dan hitam, maupun kulit berwarna merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Dengan sendirinya, negara tersebut kesulitan untuk mendapat bahan bakar dari negara kaya minyak di Timur Tengah.

Lalu bagaimana dengan keadaan Indonesia yang masih sibuk dengan naiknya harga BBM, padahal di negeri ini masih berlimpah bahan tambang batubara? Apabila Indonesia mau melakukan alih teknologi dengan belajar dari AfSel dan mengembangkan penemuan ini mungkin kesulitan BBM akan sedikit teratasi, dan tidak akan ribut masalah Blue Energy juga. Sebab bukan hanya pengganti fossil oil yang bisa dihasilkan, produk sampingannya antara lain bahan bakar diesel, plastik, alkohol, bahan baku cat, lilin, dan bahan peledak.

 

0 komentar: