Salah satu kekuatan jurnalisme media cetak adalah cara penulisan narasi berita yang sifatnya memikat sekaligus relevan. Tetapi ironisnya dua hal ini dianggap bertolakbelakang. Bagaimana tidak? seringkali orang menyamakan memikat adalah sesuatu hal yang lucu, tidak serius serta ditujukan guna menghibur saja. Sedangkan relevan biasanya serius, kaku, penuh dengan data dan fakta yang njlimet. Lalu bagaimana keduanya bisa dijadikan satu dalam sebuah paragraf tulisan. Kovach dan Rosenstiel sebagai penggagas sembilan elemen jurnalisme berpendapat bahwa untuk menguasai kemampuan menulis sebuah berita dengan gaya narasi yang memikat sekaligus relevan seorang wartawan kudu menguasai sebuah tipe penulisan nonfiksi. Menurut sebuah artikel dari Knowledge Media Lab bahwa whether it's called narrative journalism is the type of writing defined by this terms is a blend of reporting and storytelling (apa yang disebut dengan jurnalisme kesusastraan adalah sebuah jenis tulisan yang diartikan dengan dua istilah yakni perpaduan antara laporan dan mendongeng).
Ini menjelaskan bahwa sebuah laporan berita (mungkin) harus memuat nilai-nilai tentang komposisi tulisan, etika, naik-turunnya emosi pembaca dan meng-hipnotis pendengar dengan sebuah berita yang memikat tetapi tidak mengurangi nilai relevansi atau fakta-fakta yang ada didalamnya. Elemen ke-tujuh ini menciptakan sebuah genre jurnalistik baru yang lazim disebut dengan jurnalisme kesusastraan atau narrative journalism.
sumber : pantau online
Tulisan terkait :
0 komentar:
Poskan Komentar