Sadar nggak klo atmosfer politik di negeri ini memang belum dewasa, tapi masih baru tumbuh. Anehnya bukan malu-malu tapi malah overconfident alias percaya diri secara berlebihan. Terbukti walaupun sudah kalah tetap saja nggak mau ngaku, ya mungkin bisa jadi alasan yang dipakai adalah menurut perhitungan tim sukses-nya harusnya jumlahnya sekian, eh koq hasilnya lebih kecil maka terjadilah asumsi bahwa ada 'the invisible hand' dibalik perhitungan suaranya. Jelas-jelas ini politik yang tidak dewasa. Bahkan politisi senior, Ginandjar Kartasasmita, berpendapat sama denganku.
Hal ini beda banget sama atmosfer politik Amerika (yang juga sedang hangat-hangat-nya) antara Hillary Clinton dan Barrack Obama. Ketika salah satu dari mereka kalah di pemilihan negara bagian, bukan saling menjelekkan yang ada malah saling mendukung. Hillary kalah, dia bilang "ayo dukung Obama", dan ketika Obama kalah, dia bilang "ayo dukung Hillary".
Walaupun (sebagian) pendukung tidak berpikiran seperti itu ketika Hillary Clinton kalah, mereka malah membelokkan dukungan kepada calon lain. Seperti yg ada di video ini :
Hal ini beda banget sama atmosfer politik Amerika (yang juga sedang hangat-hangat-nya) antara Hillary Clinton dan Barrack Obama. Ketika salah satu dari mereka kalah di pemilihan negara bagian, bukan saling menjelekkan yang ada malah saling mendukung. Hillary kalah, dia bilang "ayo dukung Obama", dan ketika Obama kalah, dia bilang "ayo dukung Hillary".
Walaupun (sebagian) pendukung tidak berpikiran seperti itu ketika Hillary Clinton kalah, mereka malah membelokkan dukungan kepada calon lain. Seperti yg ada di video ini :
1 komentar:
Iya kadang kita terlalu PD padahal banyak orang tua yang gak seneng ama kemajuan anak muda.
You know lah, "Yang Muda Yang Gak Bisa Dipercaya?
Poskan Komentar