Sebuah cerpen asal yang dibuat atas dasar penghormatan di hari 17-an. Oleh dua orang muda yang tidak ikut upacara, tetapi masih memiliki rasa nasionalisme atas Bangsa ini. Ternyata jarak sulit sekali menebar batas untuk sama-sama menyiram Ibu Pertiwi dengan cerita dari dua anak bangsa ini, terima kasih kepada Cerpenista yang sudah menjadi wadahnya.
Apa itu Patriotisme
Pagi ini aku bangun karena berisik banyak sorak-sorai dari lapangan. Maklum rumahku terletak di sebelah lapangan. "Whoaaa.... apaan sih berisik banget" ujarku sambil liat jam di hape.
ternyata sudah jam 9 pagi. wah pantesan dilapangan sudah ramai. aku beranjak dari tempat tidurku yang berantakan. sudah 2 hari kamar ini nggak dibersihkan.
Segera kubereskan kasur guling dan buku-buku tadi malam. Langsung menuju kamar mandi.
baru saja mau masuk ke kamar mandi, sebuah suara memanggil dari luar. "assalamualaikum".. diiringi suara ketukan pintu. siapa nih yang datang?. dirumah ini hanya aku seorang. papa, mama dan adik paling sudah larut di lapangan mengikuti acara 17an.
Siapa? jeritku dari depan kamar mandi. "Aku, lies," jawabnya.
aku pun keluar menemui lies. "minta minum dong. haus nih, baru balik dari upacara" belum sempat aku bicara lies udah ngomong duluan. owh, nih anak upacara, pantesan mukanya peluh berkeringatan gitu. "upacara dimana lies?"tanyaku.
Ya dilapangan lah, masak di kuburan. Sambil menuju dapur dan membuka kulkas, beberapa detik kemudian botol air minum sudah habis setengahnya. "Koq kamu gak upacara sih. Masih hapal lagu Indonesia Raya?." tatapnya penuh selidik.
"hahaha.. masihlah" jawabku, "ngapain upacara? kek anak sekolahan aja ah" sambungku lagi. mata lies mendelik mendengar ucapanku. ia letakkan botol minuman dimeja. "kamu payah ah. nggak cinta tanah air" katanya.
Loh emangnya cinta tanah air mesti ditunjukkan sama ikut upacara. Yang penting tuh aksi, langsung kerja nyata, konkret. Upacara cuma ceremonial kalau kita nggak pernah lakuin apapun terhadap masyarakat ini.
"trus seandainya semua org indonesia raya ini berfikir kayak kamu, lalu upacara gimana? ditiadakan?" tanya lies lagi.
"Cukuplah manusia berseragam saja yang upacara. Kita membangun negeri ini dengan cara yang berbeda, karena peran kita juga berbeda" sambil menepuk jidat lies yang ngeloyor pergi.
"Sakit tau!. udah ah, aku mau ke lapangan. eh mama-mu mana?" tanya lies, "aku mo ngajak mama ikut lomba ngupas nanas" ujarnya bersemangat.
"Udah dilapangan" kataku sambil ganti baju. "Loh kamu mo kemana lagi, lapangan? bareng ya." kata Lies.
dalam hati lies heran, nih anak kan belum mandi. sekalipun ganti baju ya tetap aja masih kucel. tapi gak apalah, dia ini satu-satunya teman yang aneh tapi nyata.
Dalam perjalanan menuju warnet, aku melihat puluhan umbul-umbul warna-warni dan wajah-wajah gembira gerombolan anak kecil yang sedang lomba sambil didampingi orangtuanya masing-masing. Tak terasa butiran kristal menetes dari pelupuk mata.
sambil berkata lirih aku berujar... MERDEKA !
*Dibuat bersama seorang teman blogger asal Palembang, Lies Surya.
7 komentar:
kapan2 bikin cerpen bareng lagi ya :)
oaaalaa..aahh temennya ayi juga to?
wah seru juga yah bikin cerpennya, jadi pengen berkunjungh ke cerpenista lagih euy
redha bikin cerpen y
hmmm..merdekaaa...!!
*ikutan lomba dulu akh*
ahak-ahak...
ehem-ehem...
hehe... saiyah blom nyempet bikin akun di cerpenista :(
proxy hari ni lancar gak, kak? saiyah mo nyerpen dari kampus saje :P
@easy: boleh..
@sigid: iya temennya.
@kang gery: jangan sampe nggak kang
@lili: iseng aja mbak
@wi3nd: awas klo gak menang
@idrus: klo mo bikin silahkan, nggak usah pake batuk gitu
Poskan Komentar