Cantik itu gimana sih? Apa kriterianya? Koq bisa? bla... bla... bla... Beberapa pertanyaan diatas mungkin bisa terjawab dengan mudah. Yakni tinggi, putih, kurus semampai, sintal berisi, rambut hitam, panjang terurai, gigi putih, tidak ketombean, dll. Bukankah itu semua sudah ada dan diajarkan selama ini, baik di lingkungan masyarakat atau iklan-iklan di televisi.
Pertanyaannya kemudian adalah seberapa besar doktrin tersebut tertanam dibenak anda?
Kecantikan hakikatnya bersifat sangat relatif. Dewi persik mungkin bagi saya itu cantik, entah bagi orang lain. Omaswati bagi sebagian orang kurang menarik, tapi buktinya dia menikah juga. Jadi kesimpulannya cantik itu relatif, tergantung siapa yang melihat. Jangan sampai hanya karena doktrin media iklan yang banyak beredar di televisi kita jadi tidak pede dengan penampilan kita. Memang setiap orang pasti pernah merasakan ketidakpuasan dengan penampilan fisiknya, mulai dari wajah, rambut, lengan, pinggul ataupun bagian lainnya. Namun bukan berarti kita mesti pindah rumah ke hutan atau gua trus nggak pernah muncul ke permukaan. Karena kita adalah kita, dan kita cantik/tampan dengan cara kita sendiri.
Sedangkan kondisi dimana kita tidak puas dengan penampilan fisik disebut dengan body dysmorphic disorder (BDD). Sindrom BDD dapat mengakibatkan seseorang tidak hanya merasa tertekan, tapi juga akan menurunkan fungsi seseorang dalam kehidupan sosial, keluarga, pekerjaan, dan bidang kehidupan lainnya. Penderita BDD sangat terganggu dengan penampilan fisiknya karena mereka merasa memiliki kekurangan yang fatal atau menganggap diri aneh dan buruk rupa (padahal mungkin saja orang lain tidak menilai demikian). Penderita BDD biasanya memandang dan menilai dirinya secara negatif. Karena merasa kurang menarik biasanya mereka (penderita BDD, red) BDD sering merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah komunitasnya sehingga berdampak pada sulitnya membina hubungan dengan orang lain.
Padahal sebenarnya ini bisa diatasi dengan pendekatan medis atau membangun konsep dan pola pikir yang lebih positif dan obyektif dalam menilai diri sendiri. Bukankah inner beauty and inner handsome itu lebih mujarab.
Saya jadi teringat obrolan singkat dengan MR ketika ada akhwat lewat didepan kami. Saya bertanya, "Pak, akhwat itu cantik nggak?". Lalu dijawab dengan cepat, "Masih cantik istri saya koq," katanya. Padahal kalau saya nilai akwat mungil yang baru lewat itu lebih cantik lho. Halah....
Bukannya cantik yang membuat cinta,.. tapi cinta yang membuat cantik...(redha)
* sumber di SINI
Ini juga asyik dibaca :
Blogger ter-Aktif
The Bourne Trilogy
7 komentar:
cantik ituh relatif tap! jelek ituh mutlak! ya nda herd!? heheh
ya disyukuri sajah untuk semua yan9 telah dianu9erahkan san9 penc!pta,yan9 pentin9 cantik hatinya ju9a..
saya cantik gak? kyknya gak penting cantik, yang penting ....
ni ada puisi karya aku judulnya NARSIS.
dunia gejolak kaki mnggertak
bumi terpana asa brgerak
langit takjub semangat mmuncak
memang bkn matahari yang
slalu dnanti
memang bkn bulan yg kagumi
memang bkn bintang yg miliki
tp aku adl sekuntum bunga d
tnh gersang indah mekar berarti
cantikan mana aku dengan dewi persik ? hihihi..
Mama bilang kalau aku ini anaknya yang tercantik... tp orang lain, bilang aku jelek :D
@wi3nd: iya kamu jg cantik
@lili: bagus puisinya, tp kenpa tiba2 ngirim puisi ke aku, hayooo,...ngaku
@easy: dewi persik,...tetep
@pyuriko: temen-temenmu objektif banget,..salut
hehe...
meng deh kalo dah cinta, sejelek2nya juga tetep dibilang cantik :-p
dwh,,,, baca novel violin dey tntg penderita BDD,,,, menyedihkan tau,,,,,,,,,,,,,,,
Poskan Komentar