Dulu waktu pertama kali masuk perguruan tinggi, aku sudah bercita-cita akan belajar dengan rajin lalu lulus dengan cepat dan mendapat nilai bagus. Tanpa tahu bahwa akan banyak rintangan di depan, serta ujian yang tidak semua orang bisa melaluinya. Mulai dari teman, organisasi, hingga rasa malas bagi pelajar.
Kemudian, pertengahan kuliah aku mulai mengenal apa itu pembuatan skripsi. Kenapa banyak senior yang (menurutku) sudah lama kuliah tapi masih belum lulus. Biasanya aku bilang sama mereka, “Bang, dah ketuaan di kampus. Lulus gech mau ngapain lagi disini,” dengan entengnya. Dan biasanya pula mereka akan menjawab,”Tenang aja pasti ada waktunya abang untuk lulus.” sambil senyum.
Sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana perasaan senior-senior tersebut ketika menjawab pertanyaanku tersebut. Hingga suatu saat aku sempat membaca motto salah satu lembar skripsi di ruang baca yang berbunyi, “Gelar Sarjana adalah Sebuah Keniscayaan.” Aku berpikir..Ooohh jadi gitu ya, lalu bagaimana mewujudkan nilai dan hakikat dari keniscayaan tersebut. Jawabannya adalah organisasi dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Buat link dengan banyak orang dari lintas jurusan, fakultas bahkan universitas.
Singkat cerita, wow dahsyat ya lingkungan baru ini, pikirku. Banyak sekali teman dan ilmu yang bisa aku serap. Sayangnya inilah ganjalan pertamaku, dengan begitu banyak aktivitas akhirnya nilaiku banyak yang mengulang. Waktu itu aku lebih memilih menyelesaikan tugas organisasi ketimbang ujian Mid dan UAS, apalagi kalau ada presentasi makalah ilmiah.
Ketika teman-teman sudah mulai menyusun skripsi, aku masih asyik masyuk dengan tugas kepanitiaan dan steering commitee. Pun ketika teman-teman melaksanakan wisuda aku masih aja sibuk sama melawan godaan kedua, rasa malas. Hingga teman-teman pergi dari kampus dan masuk dunia nyata, aku malah dapat ‘godaan baru’ yakni pengalaman untuk magang kerja di dunia yang aku idam-idamkan, jurnalistik dan IT.
Lebih dari setahun yang lalu aku masuk dan kini baru aja lulus. Genap 7 tahun pengembaraanku di dunia akademis. Kini aku bisa merasakan ‘pedihnya’ ketika adik-adik tingkat menanyakan kapan lulus. Kini aku bisa mengatakan bahkan inilah keniscayaan dengan bangganya. Kini aku juga dapat berpikir bahwa Setiap manusia memiliki takdirnya sendiri-sendiri, kapan mendapat giliran lulus atau tidak, kapan mendapat kesempatan belajar atau tidak.
Aku, tujuh tahun yang lalu mendapat gelar MAHABA (mahasiswa baru) dan kini tidak lagi. Dapat berkata dengan bangga “Inilah Aku”. Dan aku tidak pernah menyesali jalan yang sudah kutempuh ini. InsyaAllah…
3 komentar:
Gpp...Kang :) di ambil hikmahnya!
tiap orang punya jalan sendiri.setidakanya sekarang keluar dari kampus dah membawa sejuta pengalaman...Ingat pengalaman adalah sesuatu yang berharga yang tak dapat di beli dengan uang
arti "keniscayaan" apa sih bang?
Poskan Komentar