Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Dangerous Gold

Sungguh luar biasa ‘kebiadaban’ perusahaan penambang emas. Jujur aku juga baru tahu malam ini kalau benda berharga semacam emas bakal menimbulkan bencana sedahsyat ini.

Berawal dari lembaran newsletter yang bernama Info JATAM, menjelaskan tentang sisi gelap dan fakta dari ganasnya limbah yang dihasilkan oleh raksasa-raksasa penambang. Belum lagi kesengsaraan yang bakal dihadiahkan kepada masyarakat sekitar mulai dari pencemaran air dan tanah, limbah tailing, kualitas udara yang menurun, cekungan tanah hasil pengerukan dan kehabisan stok air serta sumber daya alam secara terstruktur.

Dalam newsletter tersebut dijelaskan kalau untuk mendapatkan 1 gram emas, setidaknya digali 2,1 ton batuan, dipakai lebih dari 100 liter air - yang akan dibuang menjadi limbah batuan dan tailing. Ada 5,8 kg emisi beracun yang dihasilkan, mengandung 260 gr Timbal, 139 gr Arsen, 6,1 gr Merkuri dan 3 gr Sianida. Belum lagi energi yang dihabiskan, 10 persen senergi dunia digunakan oleh industri tambang. Semua perusahaan tambang akan melakukan hal yang serupa.

Beberapa fakta kerusakan yang akan dilakukan adalah : 
PERTAMA, Pertambangan emas, terutama yang terbuka, membutuhkan lahan sangat luas. Sebagian besar lahan itu akan menjadi tempat galian, yang lain digunakan untuk pabrik pengolah bijih, jalan, pelabuhan, kantor, dan juga perumahan bagi para pekerja. Untuk keperluan itu mereka membuka hutan, mengupas tanah lapis demi lapis, serta merombak tata air (hidrourologi). Akibat semua kegiatan itu penduduk di sana harus siap menerima pencemaran pada tanah dan air mereka, menghilangnya sumber daya hayati mereka, longsor dan banjir, bahkan tak jarang harus mengungsi karena digusur.

KEDUA, Pertambangan emas membutuhkan air dan menghasikan limbang super banyak jumlahnya. Sekitar 98 persen batuan yang digali akan dibuang menjadi limbah.

KETIGA, Berbeda dengan pertanian yang bisa berlangsung terus-menerus, tambang, tidak begitu. Di Indonesia, meski umur perijinannya berkisar sekitar 25 hingga 50 tahun, tapi umumnya praktek tambang skala besar berjalan antara 4 hingga 12 tahun. Tentu tak termasuk Freeport dan INCO di Sulawesi Selatan - yang sibuk menambang cadangan mineral yang memang luar biasa besar. Mereka telah beroperasi hampir 40 tahun.

KEEMPAT, Resiko perubahan sosial akibat besarnya modal dan pendatang yang menyerbu dalam waktu pendek. Di hampir semua lokasi tambang, bisnis hiburan - termasuk prostitusi - berkembang subur. Kota Timika, salah satu contohnya, saat ini menduduki peringkat pertama dalam jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Begitulah daya rusak pertambangan. Sebuah kedahsyatan yang merusak yang tak pernah disampaikan pemerintah dan pelaku pertambangan sejak awal. Gimana masih mau pakai perhiasan emas?

2 komentar:

Rudra mengatakan...

Gak boleh, mas. Haram untuk cowok.

gery@saungkuring.com mengatakan...

sama kayak disini yah para penambang timah pada nggak mikir panjang kayak elo