Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

The Diarist

Rupanya sudah lama sekali tidak datang ke perpustakaan buku-buku baru di kota ini, Gramedia. Bagaimana tidak, aku datang ke tempat ini lebih banyak baca ketimbang beli. Untungnya sampai saat ini belum ada larangan kepada pengunjung yang hanya membaca, dan belum ada perhitungan waktu untuk setiap pengunjung. Yakinlah kalau sampai ini dilakukan Gramedia bakal untung lebih banyak dan sepi dari ABG-ABG yang kadang cuma mejeng disini.

Oiya, kemarin setelah mengirim lamaran kerja via pos kilat khusus aku sempatkan mampir sebentar. Saking sebentarnya cuma lima menit disana. Cuma ya itu aku nemu buku bagus banget. Berbahasa Inggris dan ditulis oleh orang Indonesia dengan nama Abdullah Ahmad. Buku yang berjudul The Diarist tersebut sepertinya bukan sekedar buku harian semata. Saya yakin penulis merupakan tokoh hebat, cuma sampai sekarang saya koq ndak nemu siapa sebenarnya beliau.

Buku yang tidak sampai 300 halaman itu tergeletak di selasar depan toko Gramedia, dibagian diskon 30 persen. Tepat bersebelahan dengan meja pamer buku murah seharga 7500 - 15000 rupiah. Cuma satu-satunya, tidak lecek dan belum ada yang sobek. Pasti karena berbahasa Inggris jadi tidak banyak yang mau membacanya lama-lama, juga melihat label harganya yang mencapai Rp.78.600,-. Yah, uang di dompetku tidak cukup untuk beli ini, aku membatin.

Sekilas aku sempat baca beberapa lembar halaman pertama. Mantap, padat berisi. Layaknya sebuah diari, tulisannya pendek-pendek. Berisi tentang kondisi perpolitikan luar negeri. Mungkinkah penulis adalah eks-diplomat, tapi yang pasti beliau pasti berwawasan luas dan cerdas. Terlihat dari model penulisan yang runut dan jelas walaupun singkat. Sudah lama aku selalu terkesima dengan cara penulisan runut (aku belum bisa melakukannya hingga hari ini). Apalagi kalau ada orang yang bisa menjelaskan satu peristiwa penuh dengan satu atau dua paragraf dengan sangat jelas. Atau bisa dikatakan menulis dengan model paragraf pendek.

Satu hal yang bisa dipelajari dari ini semua adalah bahwa aku butuh belajar lebih banyak untuk belajar menulis pendek. Dan kalau artikel ini bisa mencapai lima paragraf itu artinya aku memang belum menerapkan apa yang aku ingin :) mohon dukungannya ya.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Kalau sdh selesai baca, Iko pinjamin yaa :D

herdianto mengatakan...

@Iko: yah, khan aku gak beli cuman cerita doang

afwan auliyar mengatakan...

wah cita-cita jadi penulis kang ?!? ato jgn2 dah jd penulis ?!?
wew... mantap kang, segala sesuatu memang butuh proses :)