Kill the Mockingbird

Dengan ilmu manusia disanjung, dikagumi dan dihormati.  Kejayaan dan kecemerlangan hidup tidak mungkin tercapai tanpa ilmu
  ~Dr Tengku Asmadi~

 

Sangat tidak menyenangkan jika kita masuk ke dalam toko buku dan sama sekali tidak membawa uang untuk membeli satu buku pun.

Kemarin aku mengalami hal tersebut. Ke toko buku Gramedia, dan mengalami rasa pengharapan yang sangat ketika berada di bagian Novel. Huh, terlalu banyak buku bagus dan harganya wow, mahal (untuk ukuranku). Bukan tidak mampu membeli, cuma sebel aja kenapa harga buku bisa seperti itu. Kalau sudah begini rasanya aku pengen gabung sama anak-anak kiri di Kampus yang mendendangkan lagu buku murah untuk semua. Bayangkan ketika semua bazaar menjual buku mahal, mereka menjual buku seharga Rp.5000,- sungguh sebuah perjuangan hebat.

Aku berpikir pasti ini akibat industrialisasi percetakan dan penerbitan buku yang sudah cukup mapan, semua jadi mahal. Mulai dari biaya produksi, pasca produksi dan post-produksi. Kertas-cetak-distribusi-PPn-Pajak-laba, semua jadi melambung tinggi. Kira-kira jalur panjang ini apakah bisa dipangkas hingga budaya baca tidak lagi sekedar slogan akibat masyarakat berpikir lebih penting beli nasi atau pulsa ketimbang buku yang notabene merupakan sumber ilmu, yang dengannya kita jadi pintar, cerdas dan mencerahkan. Bukan lagi beras, bahkan dunia bisa kita beli dan kuasai.

Banyak sekali buku-buku apik dan sarat pengetahuan tapi cuma aku bisa lihat covernya saja. Kangen juga sama akhir tahun, biasanya Gramedia bakal cuci gudang, untungnya semua buku jadi murah banget.

Aku berharap buku-buku karya Dee (dewi lestari) juga tak urung dari cuci gudang tersebut kelak. Akar, Supernova bahkan (kalau bisa buku barunya, Rectoverso dan Perahu Kertas). Buku-buku motivasi, atau kitab-kitab terjemah akan jadi semurah harga pulsa buat anak SMP. Bukan mustahil orang bakal milih beli buku daripada nongkrong di Pizza Hut atau Solaria demi gengsi makan di tempat bagus. Orang bakal milih beli es campur di pinggir jalan sambil baca buku ukuran tebal. Itu kelihatan lebih bagus daripada mejeng di Solaria tapi cuma minum es teh manis.  Maaf ini sudah ngarep banget. Tapi aku masih kesal dengan harga buku yang diatas lima puluh ribu. Kapan coba kita lihat kumpulan anak SMP diskusi isi eksiklopedia atau kumpulan mahasiswa yang bedah buku di lapangan kampus seminggu sekali.

*judul tulisan diambil dari salah satu buku di etalase Gramedia

pencari buku murah,
Redha Herdianto

4 Responses to "Kill the Mockingbird"

  1. gravatar nuzul says:

    hahaha.. iya bang.. klo gramedia cuci gudang biasanya jg saya cuci kantong.. borong..

  2. gravatar herdianto says:

    @nuzul: haha..sama klo gitu

  3. gravatar Sarimin says:

    maen rumah sarimin aja...., di sini banyak orang jual buku aspal.... kondisi istimewa seperti di toko" buku terdekat.... Xixixi... :) emang butuh berapa Truk bro?... sarimin mo jadi supplayer ni... Xixixi...

  4. gravatar herdianto says:

    @sarimin: bisa tuh jadi prospek bisnis. Saya blm butuh sekarang, perpustakaannya blm jadi

Leave a Reply

Terima Kasih Sudah Mau Berkunjung ke Blog ini..