Aku Ber-Handphone, Maka Aku
~ SN ~
Setahun yang lalu saya pernah menulis tentang cerita handphone baru. Tapi sampai sekarang belum pernah cerita tentang nomor handphone, apalagi yang cantik. Kalau di KasKus mungkin lazim disebut nocan. Nah, dulu waktu saya baru pertama kali punya handphone yang disebut dengan kartu perdana itu harganya hampir sama dengan harga handphonenya. Sekarang cuma dengan goceng (Rp.5000,-) kita bisa beli kartu handphone, terserah mau yang provider manapun.
Dan seingat saya pula, setiap area nomor itu punya kode khusus untuk setiap regional masing-masing. Dulu kita bisa membedakan nomor ini dari area mana, apakah Lampung atau Jakarta, apakah Padang atau Medan. Pokoknya bisa, tinggal menghapalkan 2 (dua) nomor setelah kode provider. Misalnya Mentari (0815xx) atau Simpati (0813xx).
Kalau sekarang jangankan mau setia dengan satu nomor, kadang sebagai pengguna mudah sekali terbujuk rayu oleh iklan yang menawarkan tarif paling murah. Jangankah mau menghapalkan kode area sebuah nomer, dengan pertarungan banyak provider dan semakin membludaknya pengguna piranti komunikasi seluler semakin merumitkan pemetaan nomor. Jangan bagi pemakai, provider rasanya sudah kehabisan padanan nomor bagi produknya, hingga ada kasus recycle nomor yang sudah hangus dan penyatuan beberapa area menjadi satu, misalnya SumBagSel. Jadi sekarang sudah susah membedakan mana nomor Lampung, Palembang, Padang atau Riau. Aku aja yang berdomisili di Lampung bisa dapet nomor area Padang di pinggiran kampusku.
Intinya adalah, tadi pagi aku dapet SMS dari nomor XL yang mengingatkan untuk bangun di sepertiga malam. Tapi tidak ada di phonebook milikku, dan sekarang aku tidak bisa menebak dari mana asal kiriman tersebut. Sudah tidak bisa membedakan dari area mana si pengirim berasal. Cukup berterima kasih saja sudah ada yang membangunkan.
pemakai kartu AS,
Redha Herdianto
Redha Herdianto

Posted in




waah bukan saya ^_^
@indahonly: tapi kodenya areanya sama, ngaku aja deh
paing kekasih gelapmu... :)