Siapa yang tidak kenal majalah satu ini. Dengan icon manusia kelinci berbaju dengan huruf "b" di dadanya ini pasti familiar bagi kita (anak-anak) yang suka membaca. Kalau aku dulu paling sering beli majalah ini di rumah sakit, bisa pas sakit atau pas iseng silaturahmi sama dokter di Rumah Sakit Abdoel Moeloek sembari minta resep obat (bisa juga disebut berobat sih).Menjelang dewasa pada umur-an SMP, aku sudah tidak mengenal dan membeli lagi majalah anak-anak favorit ini. Aku lebih suka membaca komik Dragon Ball dan kamus Bahasa Inggris. Bagiku lucu saja kalau aku mesti menenteng majalah tipis dengan penuh warna dan bertema Oki dan Nirmala atau Bona, gajah kecil berbelalai panjang.
Seiring berjalannya waktu, majalah Bobo yang memiliki reputasi dan
sejarah panjang ini mulai menarik diri dan menyesuaikan dengan zaman. Beradaptasi dengan cara berpikir anak-anak sekarang. Belakangan aku juga baru tahu kalau majalah Bobo merupakan adaptasi dari negeri Belanda. Mungkin ini juga termasuk politik etis (politik balas-budi) yang dijalankan oleh penjajah kita tersebut. Lalu dengan merebaknya penyihir (sok) ganteng, Harry Potter. Mulailah banyak majalah-majalah yang mengusung tema Harry Potter, tidak terkecuali Bobo.Demi melihat kelas Slytherin-ku akhirnya berburu juga majalah masa kecilku ini, harganya berlipat-lipat tapi lebih mudah aku beli. Waktu kecil harganya murah tapi aku nggak bisa beli. Aneh ya. Dari sini aku lihat isinya sudah mulai beda, dan sangat hi-tech. Isi cerpen dan kisah-kisahnya masih lebih berbobot dan mendidik sewaktu kecil dulu. Sekarang isinya sudah didominasi artis cakep dan cantik, dulu isinya adalah orang-orang berprestasi yang membela negara ini. Dulu cerpennya kebanyakan tentang kebajikan, sekarang tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Timpang banget.
Bagaimanapun Bobo telah mengukir sesuatu di hatiku, dan itu tidak bisa dihapus begitu saja. Mudah-mudahan masih diproduksi pas aku sudah punya anak nanti. Like Father Like Son, kalau Abi-nya dulu suka baca, siapa tahu anaknya juga bisa jadi kutu buku. Tinggal nyari Ummi yang tepat aja. Tapi sekarang klik dulu biar masuk list fans Bobo di Facebook. Kalau mau baca majalah onlinenya ada disini.
salam inspirasi,
Redha Herdianto
16 komentar:
*nostalgia mode on...
teman bermain dan belajar ya...
Wah jadi pengen baca lage neh ^^..
@Qorie: yups.. bobo dulu enak sih
@ricxzone: masih ada jualannya koq
bobo sekarang makin gaul...
by:nadya athamevia
umur 12 thn ....
@nadya: ehm iya makin gaul. nadya ambil yang baiknya aja ya..jgn lupa rajin belajar
harusnya cerpen&cergam nya dibanyakin
aku suka baca bobo !!!!
woowww...
wowww...
wowww..
cuma tu ja ygbsa q brikan utk kgumi mjlah bbo!!!!
gimana cara baca ti internet
lebih suka baca Bobo yang tahun 80-an daripada sekarang
Bobo baik sekali, disaat era digital FB, dia langsung ada account FB dan menjadi teman anak2 dan memberikan rambu2 aman di FB
walaupun bobo bertambah umur,, q pingin bobo tetap bertingka laku 9 thn..,,
hhee....
bo... caranya untuk ngirim cerpen gimana?
Saya juga suka baca Bobo, sampai sekarang. Profil yang ditampilkan gak melulu artis kok. Tapi memang sering juga sih. Mungkin karena banyak yang request. Tahu lah anak-anak jaman sekarang, hebohnya Smash, Seven Icon, dkk. Cerpen dan dongengnya juga masih bertema moral (yang saya baca sih begitu, ga tahu juga edisi lain yang ga sempat saya baca). Overall, masih lumayan edukatif kok buat bacaan anak. Koleksi Bobo saya juga kayanya mau saya simpan buat diwariskan ke anak :D
aku kangen sama majalah bobo,,,,
Sebenarnya juga lebih cinta bobo yg dulu. Tau gak, saya bisa baca huruf ABC kan gara-gara majalah bobo sampai sekarang sudah jadi guru. Cuma memang semua fenomena didunia ini harus ngikut perkembangan zaman kan. Kayaknya kalopun bobo tampil seperti era 80an lalu generasi sekarang gak ada yang doyan. Selera mereka beda dengan selera kita.
Poskan Komentar