Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Atlantis van Java

Dalam wikipedia disebutkan Atlantis, (bahasa Yunani: pulau Atlas) adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias. Pada buku Timaeus, Plato berkisah:

Di hadapan Selat Mainstay Haigelisi, ada sebuah pulau yang sangat besar, dari sana kalian dapat pergi ke pulau lainnya, di depan pulau-pulau itu adalah seluruhnya daratan yang dikelilingi laut samudera, itu adalah kerajaan Atlantis. Ketika itu Atlantis baru akan melancarkan perang besar dengan Athena, namun di luar dugaan, Atlantis tiba-tiba mengalami gempa bumi dan banjir, tidak sampai sehari semalam, tenggelam sama sekali di dasar laut, negara besar yang melampaui peradaban tinggi, lenyap dalam semalam.

Selama ini saya membayangkan Atlantis adalah kota khalayan yang mustahil untuk dibuktikan. Meski banyak orang yang masih bersusah payah berusaha membuktikan isi tulisan buku karangan Plato tersebut. Sampai siang ini saya menemukannya dalam karya Oscar Matuloh berjudul . Sebuah karya fotografi yang disebut dengan Fotography Essay. Rangkaian foto yang berusaha mengungkapkan sebuah narasi kepada masyarakat melalui dokumentasi gambar digital.

Atlantis van Java merupakan hasil pendokumentasian sisi lain akibat dari bencana lumpur lapindo. Kita disuguhi pemandangan mengerikan dari jarak sangat dekat sekali, dan sisi-sisi lain yang tidak pernah ter-ekspose mata berita pada umumnya. Wajar sebab inilah kelebihan dari seorang seniman fotografi yang dapat menangkap feel berbeda dari orang kebanyakan.

Atlantis van Java merupakan hasil pendokumentasian sisi lain akibat dari bencana lumpur lapindo. Kita disuguhi pemandangan mengerikan dari jarak sangat dekat sekali, dan sisi-sisi lain yang tidak pernah ter-ekspose mata berita pada umumnya. Wajar sebab inilah kelebihan dari seorang seniman fotografi yang dapat menangkap feel berbeda dari orang kebanyakan.

Saya tahu Oscar Matuloh pun ketika siang tadi meliput kegiatan Workshop Fotografi yang diadakan UKM Zoom, salah satu unit kegiatan mahasiswa di .

Mungkin inilah untungnya menjadi seorang jurnalis lepas untuk website universitas, selain dibekali dengan pengetahuan teknologi informasi yang mumpuni. Saya masih bisa meng-eksplorasi kemampuan jurnalistik kapan dan dimanapun. Lagipula sangat asyik berpetualang keluar masuk tiap fakultas-jurusan bahkan rektorat hanya untuk berbincang sejenak dengan pejabat dan tamu undangan. Bahkan seperti workshop fotografi ini, selain dapat berita juga bisa menyerap ilmu mahal dengan gratisan. Cukup dengan modal identitas bahwa saya adalah PERS internal Universitas.

jurnalis Unila,
Redha Herdianto

3 komentar:

elmoudy mengatakan...

jadi jurnalis kampus memang mengasyikkan...
dulu gw jg pengen aktif di UKM Jurnalisme.. tp gak jadi
gak pede n merasa gak mampu

Qori mengatakan...

Keren fotonya, fotografer nekat!
Jadi terinspirasi buat jadi jurnalis juga nih.
Tapi jurnalis sipil juga.

wi3nd mengatakan...

ba9us fotofotonya..
idup ban9eed..


senan9 apstina yah bisa jadi jurnalis kampus,smo9a bisa jadi jurnalis diluar kampus ju9a amien ..

have nice week end herdi :)