Gayus Tambunan. Sebuah nama yang selalu disebut-sebut dalam setiap sesi berita di televisi menjadi terkenal karena kasus penggelapan dana pajak di Direktorat Pajak ini kalau aku pikir hanya merupakan ‘kambing hitam’ dalam kasus yang (mungkin) tidak akan pernah selesai ini. Dalam sebuah pemberitaan dengan tajuk “analisis Rizal Ramli” yang juga merupakan mantan Menteri Perekonomian disebutkan bahwa manajemen keuangan di departemen tersebut memang sengaja dititipkan kepada staf tingkat rendah agar lebih aman dan under the radar.
Seingatku, kasus ini adalah hasil lanjutan dari tiga kasus besar sebelumnya, yakni pembunuhan oleh Antasari Azhar yang akhirnya malah membeberkan beberapa kasus korupsi dan penyuapan di beberapa instansi pemerintah. Lalu, berlanjut dengan bailout Bank Century dengan penyebutan dua nama, Sri Mulyani (Menteri Keuangan) dan Wakil Presiden RI. Kemudian mencuatnya kasus Komjen Susno Duadji. Ketiga kasus ini akhirnya selesai dengan status tidak jelas, malah sekarang ditutupi dengan kasus si Gayus ini.
Berdasarkan disiplin keilmuan waktu kuliah dulu, Kebijakan Publik, sudah menjadi kewajiban negara untuk menutupi dan menyelesaikan sebuah permasalahan yang menyangkut permasalahan publik, seperti halnya tiga kasus diatas. Intinya ada dua cara yang biasa dilakukan. Pertama, dengan cara ‘kasar’, seperti yang ditunjukan pada masa orde baru. Sumber masalah langsung dihabisi dan media dipaksa tutup mulut hingga kasus tidak akan pernah bisa dibahas, kasus lenyap tanpa bekas dan masyarakat tidak pernah tahu apapun.
Sedangkan cara yang paling aku ingat adalah melalui kebijakan artifisial, yakni menutupi masalah dengan masalah lain yang sama atau lebih besar efeknya. Kenapa aku menyebut ini, karena aku pikir semua kasus ini memiliki rangkaian hubungan yang erat dan sistematis. Maka secara subjektif, aku bilang ini adalah kebijakan artifisial yang dibuat oleh negara, dalam hal ini pemerintah atau sekelompok orang kuat dengan kekuasaan lebih.
Kasus Antasari Azhar yang memicu kasus Bank Century dengan menyeret nama Sri Mulyani dan wakil presiden, bisa jadi ditutupi dengan peng-kambinghitam-an Susno Duadji. Karena kalaulah SBY fair kenapa sulit sekali melepaskan dua orang penting tersebut. Diakhiri manis dengan menguapnya skandal century di tempat sampah. Pun halnya Susno yang tidak mau disalahkan dan agaknya sulit dikendalikan maka dibongkarkan beberapa kebusukan lainnya, maka muncul kasus baru si Gayus ini. Publik pun mulai gerah dan bosan dengan sandiwara ini, tapi sayangnya momentum demonstrasi sudah mulai mengendur. Sekarang tinggal waktunya pemerintah melakukan kebijakan artifisial lain dengan menutupi kasus ini dengan kasus yang lebih fresh dan menggigit. Kita tunggu saja.
cuma mengamati,
Redha Herdianto
1 komentar:
9ayus hebat yah..
masih muda tapi korupnya da banyak ban9ed ckckc..
Poskan Komentar