Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Mita Zoe di situs Pelangi Training Center berjudul Uang Saku vs Kebutuhan Anak secara jelas diterangkan bahwa tidak ada ungkapan kata terlambat untuk mengajarkan pendidikan manajemen keuangan sejak dini. Mendidik anak untuk menjadi hemat dan cermat dalam penggunaan keuangan, hal ini tentu akan sangat berguna bagi kehidupannya dimasa depan. Meski ini adalah efek tidak langsung.
Pemberian uang saku tak hanya mengenalkan kemampuan mengelola keuangan. Menuntut tanggungjawab, komitmen dan kedisiplinan anak. Tidak pernah ada istilah 'terlalu cepat' untuk memperkenalkan pengelolaan keuangan pada anak. Mengenalkan pengelolaan uang berarti juga memperkenalkan nilai uang, cara membuat anggaran, serta menabung. Semakin cepat diperkenalkan, anak akan semakin siap mengelola keuangannya secara mandiri. Konon, kebiasaan anak mempergunakan uang, kelak akan mempengaruhi kemampuannya mengelola keuangan. Untuk itu orangtua perlu mendidik anak dimulai dari hal yang sederhana terlebih dulu yaitu bagaimana memanfaatkan uang saku.
Ahmad Gozali yang merupakan salah satu konsultan keuangan dari Safir Senduk & Rekan mengatakan pemberian uang merupakan sarana pembelajaran anak terhadap tanggungjawab, komitmen, dan matematika sederhana. Tanggungjawab untuk menyimpan uang dan membuat keputusan sendiri penggunaan uangnya. Ditambahkan pula dengan pembiasaan mengelola uang saku (harian/mingguan/bulanan) dampaknya akan terlihat ketika harus tinggal terpisah dari orangtuanya. Ketika sudah jauh dari orang tua (kost, misalkan) si anak akan menerima uang saku bulanan. Kalau belum terbiasa maka dia tidak akan dapat mengontrol keuangannya sendiri. Pada anak yang telah terbiasa diberi uang saku untuk sepekan atau per bulan, maka ia akan terbiasa menahan keinginan untuk menghabiskan uangnya di awal pekan/bulan. “Jika pembiasaan ini tidak dilakukan sejak kecil, bukan tidak mungkin anak akan kehilangan kontrol dalam kehidupan keuangannya,” katanya.
Menurut Sonitha Poernomo, Assistant Vice President Citibank, pemberian uang saku secara reguler merupakan cara yang baik bagi anak untuk belajar tentang nilai uang dan sekaligus menumbuhkan kemampuan pengelolaannya. Selain itu juga mengajarkan tanggung jawab dan disiplin sejak dini. Uang saku membantu anak memahami prinsip dasar pengelolaan uang dan ekonomi. Anak-anak seringkali meminta orangtuanya agar membelikan barang atau mainan ketika bersama-sama pergi berbelanja. “Daripada anak memaksa minta dibelikan barang, dengan uang sakunya anak dapat memutuskan apa yang akan dibelinya. Sehingga termuat konsep bahwa uang tersedia dalam jumlah terbatas,” katanya.
Meski begitu terdapat beberapa hal yang mesti diperhatikan sebelum memberikan uang saku kepada anak. Salah satunya adalah mempertimbangkan kebutuhan anak dan mengukur kemampuan lingkungan menyanggupi kebutuhan kesehariannya.
Kesiapan anak adalah pertimbangan utama yang harus diperhatikan orang tua sebelum memutuskan memberi uang saku. Orang tua bisa menilai apakah anaknya siap dibebani tanggungjawab untuk membawa, menyimpan dan menggunakan uangnya sendiri. Kesiapan anak untuk menentukan tingkatan uang saku yang diterima, tidak bisa diukur dari usia.
Serta jika anak sudah dipercaya menerima uang saku bulanan bisa diajarkan mengatur kebutuhan lain di luar keperluan sekolahnya. Seiring waktu, orangtua bisa menambah jumlah uang saku anak. Sehingga anak pun bisa menyesuaikan pengelolaan pengeluaran uang sakunya dengan kebutuhannya selama sebulan. Tujuannya, mengajarkan anak untuk membuat pengeluaran yang seimbang antara kebutuhan utama dan belanja yang sifatnya impulsif. Anak akan belajar memilah-milah kebutuhan yang menjadi prioritasnya.
*adaptasi dari artikel Pelangi Training Center
salam inspirasi,
Redha Herdianto