Or perhaps in Slytherin you'll make your real friends, those cunning folk use any means achieve their ends. And power-hungry Slytherin loved those of great ambition. We Slytherins are brave, yes, but not stupid.

Kungfu is not karate

Karate_Kid_2010Ini gara-gara kelamaan gak cek situs 21Cineplex, aku jadi lupa seri judul dari film remaja yang sudah aku ikuti dari awal dan sedang hit di setiap sudut pembicaraan remaja serta lembar-lembar majalah Anak Baru Gede (ABG) tersebut. Aku lupa kalau seri ketiga dari film Twilight adalah Eclipse, kupikir itu adalah yang kedua (New Moon), jadi aku meluncur ke studio 2 di Ramayana Cilegon untuk sedikit menikmati liburan akhir pekan.

Aku dan temanku, Rizki, akhirnya memutuskan untuk melihat yang paling baru, Karate Kid. Film yang dijadikan pembaharuan dari film dengan judul serupa beberapa tahun silam. Kalau dulu beneran Karate Kid dengan penampilan seorang guru beladirinya dari Jepang. Kali ini setting film dilakukan di negeri Tirai Bambu, lengkap dengan scene yang menampilan Gunung Kun Lun, Tembok Besar China, dan kekumuhan perumahan kelas bawah disana. Dan tak lupa seorang gurunya adalah artis besar mandarin, Jackie Chan.

Agak aneh sih, Karate yang merupakan beladiri asal Jepang menjadi judul film ini tapi beladiri yang ditampilkan adalah Kung Fu, pertandingan dan latihan Kung Fu dan sekolah Kung Fu yang memang bertebaran di China. Hampir sama lah dengan Indonesia yang menjamur padepokan Pencak Silat. Memang sejak awal inilah yang menjadi perdebatan dan kontroversi dari film satu ini, namun bukan berarti tidak laku dan ditinggalkan karena beda judul dengan isi. Malah menurutku inilah yang menjadi daya tarik dan membuat rasa penasaran penggemar film laga muncul.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari film anak-anak ini. Mulai dari memahami perihal hidup yang memang naik turun, pertemanan, cinta monyet hingga kebijakan seorang pengajar yang seharusnya mendidik dengan akhlak luhur. Tapi ciri utama dari film ada sangat kentara disini, meski sentuhannya agak sedikit samar, yakni setiap beladiri memiliki falsafah yang sama, yakni mengalahkan diri sendiri, tidak untuk sombong, butuh ketekunan dan yang paling penting adalah latihan jurus itu bukan segalanya sebab setiap gerakan tubuh kita adalah gerakan beladiri yang sesungguhnya.

Dari dua jam duduk termangu di depan layar besar 21Cineplex aku paling suka dua potongan kalimat yang keluar dari pernyataan Han (Jackie Chan), yakni (saat Xiao Dre meminta waktu latihan lagi), dan Terlalu Banyak Itu Tidak Baik (saat Xiao Dre meminta waktu latihan lagi) serta Kehidupan Akan Selalu Mengalahkanmu Tapi Kamu Bisa Memilih Bangkit Atau Kalah (saat Han sadar dia sudah sia-sia bersedih selama puluhan tahun akan kematian istri dan anaknya).

Selebihnya salut untuk pembuat film ini. Emosi penonton terbawa suasana, seluruh penonton beberapa kali bertepuk tangan kala Xiao Dre mengalahkan lawannya dengan bijak saat turnamen KungFu berlangsung. Meski aku sempat berpikir bahwa film ini hanya layak menjadi film anak-anak pengisi waktu liburan sekolah tiba.

*gambar diambil dari daemonsmovies

salam inspirasi,
Redha Herdianto

sejarah Adidas

adidas, atau dikenal juga dengan adidas-Salomon AG, merupakan sebuah merk sepatu dari Jerman yang sangat terkenal. Didirikan oleh Adolf Dassler, yang mulai memproduksi sepatu pada 1920-an di Herzogenaurach dekat Nuremberg. Rancangan baju dan sepatu perusahaan ini biasanya termasuk tiga strip paralel dengan warna yang sama, dan motif yang sama digunakan sebagai logo resmi adidas. Pada Agustus 2005, adidas mengakuisi rivalnya, Reebok, dalam upaya memperketat persaingan dengan Nike.

Selama lebih dari 80 tahun lamanya grup Adidas telah menjadi bagian dari dunia olahraga di segala bidangnya dengan menawarkan sepatu, pakaian serta beragam aksesori pelengkap olahraga yang bernilai seni pada setiap produknya. Strategi grup Adidas sangatlah simpel: memperkuat brand secara terus menerus dan meng-improvisasi posisi kompetitif serta keuangan mereka. Aktivitas perusahaan dan lebih dari 150 cabangnya dipantau langsung oleh pemimpin grup di Herzogenaurach, Jerman. (sumber : wikipedia)

Pada awalnya perusahaan ini hanya memproduksi selop. Pada suatu hari di tahun 1925, Adi berhasil merancang sepasang sepatu olahraga, dan sejak itu usaha perbaikan dan pengembangan dalam bidang sepatu pun terus dilakukan. Setelah berbagai inovasi dilakukan, pada tahun 1927-an, adidas sudah berhasil merancang sepatu khusus untuk berbagai keperluan olahraga, dan pada 1928 mereka memberikan sepatu mereka secara gratis kepada atlet-atlet yang berpartisipasi pada Olimpiade Amsterdam. Didukung oleh kemajuan bidang penyiaran dan pertelevisian, adidas menikmati keuntungan dari event olahraga seperti Olimpiade atau sepakbola, karena logo 3 strip mereka mudah dikenali dari jauh.

Setelah krisis pada awal 80-an, terutama karena berjayanya Nike di pasar internasional, adidas berhasil mengembalikan pamornya pada tahun 1986 ketika Run D.M.C, sebuah grup musik rap dari New York, membuat lagu yang berjudul “My Adidas”, dan sekaligus mempopulerkan sepatu adidas yang mereka pakai tanpa menggunakan tali. Hal tersebut menjadi gaya tersendiri yang banyak ditiru oleh fans-fans mereka.

Pada dekade 90-an terutama di AS dan Eropa berkembang pikiran bahwa generasi muda cenderung menghindari apapun yang orang tua mereka pakai, termasuk dalam urusan sepatu. Mereka menghindari pemakaian nike dan reebok, yang dulu dipakai oleh orang tua mereka. Sehingga barang-barang produksi adidas yang sudah berumur 20 tahun-pun tiba-tiba menjadi barang koleksi yang mahal harganya dan dicari-cari oleh banyak orang. Hal ini pun dimanfaatkan oleh adidas untuk memproduksi dan mengeluarkan kembali (re-issue) beberapa model sepatu populernya (seperti adidas rom, rekord, athen, dublin) .Hal ini mengangkat status adidas itu sendiri, dari sekedar produk olahraga menjadi semacam lambang gaya hidup yang baru. (sumber: loyaltoadidas)

*gambar diambil dari adsoftheworld

buruh adidas-Salomon,
Redha Herdianto

Love to Masjid

MasjidSemua orang pasti paham apa itu Masjid. Yups, tempat sujud dan tempat ibadah bagi kaum Muslim. Banyak ayat Al Quran dan Hadits yang menyebutkan pentingnya muslim laki-laki untuk selalu datang ke tempat satu ini. Bahkan Masjid bisa dikatakan sentral dari seluruh kegiatan Islam, apapun bentuknya. Meski ada batasan-batasan yang harus dipahami. Misalnya dilarang berniaga didalamnya atau membicarakan masalah duniawi semata. Bahkan menurut salah satu riwayat bangunan pertama yang dibangun ketika Rasullullah masuk ke Madinah adalah Masjid.

Ketika pertama kali bekerja di sini, Cikande-Serang. Aku ditawari untuk tinggal di mess, dengan alasan inilah tempat tinggal yang merupakan fasilitas yang disediakan gratis oleh perusahaan. Dan karena aku lulusan S1 (sarjana) maka dianggap staf khusus. Sehingga mess dicampur dengan lulusan S1 juga, satu kamar diisi oleh empat staf officer. Bedanya kalau operator satu kamarnya diisi 6 orang, so crowded. Dan juga tempat makan juga dibedakan, antrian kami hanya kisaran beberapa orang, berbeda dengan pekerja operator yang antrianya bisa puluhan orang.

Satu hal yang aku tidak suka dari keadaan mess adalah keadaan kamar mandi dan suasana ibadah yang agak sulit. Bayangkan untuk sholat dalam ruangan hanya ada satu jalan, ke arah kamar mandi. Kiblat pas menghadap kamar mandi, kemudian seringkali aku sholat, teman-temanku asyik aja jalan ke arah kamar mandi, gak pake nunggu mereka justru geser aku yang lagi sholat. Asli gak khusyuk. Sedangkan untuk berjalan ke masjid butuh waktu 10 menit berjalan. Sia-sia waktu jalannya.

Akhirnya diputuskan untuk mencari kamar kost yang bisa dijangkau dalam hitungan menit menuju tempat kerja. Alhamdulillah ketemu dengan biaya paling minim dan sesuai dengan keinginan. Dekat masjid dan kamar mandi di dalam. Hanya 15 menit perjalanan motor ke arah pabrik. Menuju masjid hanya berjarak setengah menit. Mungkin inilah jalan yang diberikan Allah untuk mempermudah ibadah karena niatnya memang untuk itu. Percuma irit tinggal di mess tapi susah ke masjid. Banyak uang tapi hidup tidak berkah.

Semoga dengan ini aku tidak lupa untuk tetap jalan ke masjid, berjamaah. Apalagi sebentar lagi bulan suci Ramadhan jadi akses ibadah jami' akan lebih nikmat. Dan aku pribadi berharap semoga dari 7 (tujuh) golongan yang akan dinaungi Allah kelak ketika hari perhitungan aku masuk dalam salah satunya, Pemuda yang hatinya terikat ke masjid. Semoga... Amiin.

*gambar diambil dari ZainMujahid

sedang curhat,
Redha Herdianto

Pentingnya Kerjasama

Kerjasama merupakan salah satu cara untuk cepat mencapai sebuah tujuan yang diinginkan oleh manusia. Hampir dalam semua aspek kehidupan. Siapa pun tahu itu. Dalam ilmu administrasi pun kerjasama dibahas hampir dalam tiap semester.

Kalau dicari apa itu pengertian kerjasama secara harfiah memang akan sangat sulit ditemukan via Google. Tapi dalam hal kecil saja pun manusia akan selalu membutuhkan apa yang disebut kerjasama. Dan harap dibedakan dengan sama-sama bekerja, Kalau Kerjasama adalah kegiatan dua orang atau lebih yang saling bantu membantu dalam satu bidang kerja atau mencapai tujuan yang sama, sedangkan Sama-Sama Bekerja semua orang bekerja namun yang dikerjakan tidak sama meski tujuannya sama.



Dalam video ini adalah contoh kerjasama yang aku rekam ketika sedang ada training karyawan baru di pabrik tempatku bekerja, ada 400-an orang cewek yang bakal jadi operator. Dan hampir tiap dua minggu diadakan rekrut seperti itu, sungguh luar biasa.

Bila melihat video ini bisa dibayangkan sulitnya mendorong sebuah kereta berisi puluhan piring sendirian. Dan kalau dipikir-pikir lagi pabrik ini akan sangat membutuhkan kerjasama yang solid antara manajemen, sekuriti, pengawas dan operator agar tercapai target produksi yang sudah ditetapkan, dan tercipta kondisi kerja yang adil dan kondusif. Semua aman dan semua nyaman.

iseng mikirin pabrik,
Redha Herdianto

Nothing Is Useless

Entahlah judul ini sesuai tidak dengan ceritaku ini nanti. Berdasarkan hasil pengartian dari Google Translate maka judul tulisan ini akan menjadi Tidak Ada Yang Sia-Sia. So, kalau salah mohon koreksinya.

Dua postingan terdahulu sudah menjelaskan kalau aku sekarang dalam masa hijrah dan mencoba ber-adaptasi dengan atmosfir disini yang serba cepat. Kalau tidak cepat maka akan sering terjebak macet. Hehe.... Maklum daerah ini adalah daerah industri. Oiya aku ingin cerita masalah ketidaan koneksi internet di tempat kerjaku yang baru. Bahkan komputer saja aku belum diberi, katanya sih untuk pengadaan akan sangat lama. Jelas ini akan sangat menyiksa karena aku tidak bisa menuangkan ide pikiran dan hasratku dalam tulisan.

Akhirnya terbersit solusi paling cerdas dalam ketika dalam pencarian seminggu tidak juga ketemu line internet, yaitu membeli sebuah buku Diary. Yups.. anda tidak salah baca. Buku Diary adalah sebuah buku mungil yang berisi catatan hati menjelang tidur ketika malam menerpa. Diary pun identik dengan feminisme, biasanya kaum hawa yang paling rajin dan hampir wajib memiliki perkakas satu ini. Tapi dua minggu lalu aku membeli diary yang bentuknya tidak seperti diary, malah menyerupai buku agenda. Kubawa tiap harinya ke kantor. Ketika tidak ada kerjaan maka tanganku akan sangat lincah menari menapaki tiap lajur kosongnya. Kuisi dengan isi hati dan kegiatanku sehari-hari.

Apakah dengan itu aku jadi aneh? Tentu tidak, sedikit demi sedikit aku mulai menghilangkan frame bahwa diary adalah buku harian yang hanya digunakan oleh kaum cewek. Karena aku sudah memanfaatkannya dan hasilnya sangat berguna. Aku bisa menabung tulisan selama satu minggu kerja dan menumpahkan semua isinya dalam sela-sela weekend selain kegiatan rutin mingguan yakni mencuci dan menyetrika.

Paling tidak aku bisa merasakan bagaimana kurang enaknya hidup sendirian, dan ini yang membuatku semakin bersemangat untuk mengumpulkan modal biar nggak sendiri lagi :D serta kapan-kapan aku ceritakan tentang kost baruku, kuliner di pabrik, keadaan macet menuju pabrik serta enaknya ketika awal bulan menerima gaji. See you....

*gambar diambil dari Sedotan Limun

salam perantau,
Redha Herdianto

Weekend itu nikmat

Bismillah... akhirnya bisa juga mulai menulis disini. Walaupun belajar irit keuangan karena jauh dari orang tua, so cukup satu jam saja menyewa bilik yang merupakan salah satu privasiku setelah satu minggu penuh direnggut. Aku merasa mulai merasa lebay karena belum terbiasa dengan iklim cuaca, suasana kerja, tanpa fasilitas dan takut. Tapi mudah-mudahan satu tulisan ini cukup dan tidak akan ada lagi keluh kesah.

Ini aku ceritakan keadaanku secara subjektif. Dulu aku belum terbiasa dengan etos kerja di dunia nyata, aku hanya belajar bekerja di kampusku, jadi masuk terserah jam berapapun begitu juga pulangnya. Disini aku harus masuk jam 7 pagi dan pulang jam 4 sore, full selama 8 jam kerja dan 5 hari seminggu. Untuk sementara aku tinggal di mess yang disediakan pabrik. Ruanganya besar tapi satu kamar diisi 4- 5 orang untuk officer macam aku. Tersisa satu jalan dari pintu depan ke kamar mandi, itulah satu-satunya ruang yang dipakai untuk ibadah sholat. Padahal dari ke-4 penghuni memiliki kesibukan masing-masing. Hingga aku berpikir untuk mencari kost-an yang sangat mahal disini harganya demi untuk meng-khusyuk-kan ibadah saja. Aku takut memang irit pengeluaran tapi hati jadi mati dan hidup tidak berkah. Meski tidak banyak uang tapi hidup berkah khan hati jadi tenang dan senang, jadi lebih kuat menghadapi hidup. Buat apa coba uangnya banyak tapi hidupnya tidak berkah.

Untuk masalah ini aku sudah bicara sama orang tua dan mendapat restu untuk cari kost-an demi lebih tenang sholat. Dan mereka juga berpikir kalau aku kost maka privasi lebih ada lagi. Meski akan sangat memberatkan awalnya untuk masalah biaya hidup karena harus mengisi isi kamar dari awal. Karena aku juga baru tahu kalau kost itu cuma kamar kosong saja.

Oiya, masalah weekend awalnya aku tidak percaya perkataan temanku sendiri. Dulu aku hanya tahu bahwa dia tidur seharian ketika Sabtu-Minggu, kata dia begini, "Nanti juga bakal anda rasain sendiri kalau sabtu-minggu itu bener-bener surga."

Disini aku baru satu minggu, dan merasakan weekend baru sekali tapi sudah aku rasain nikmatnya hari libur. Aku puasin tidur malam dan siang, apalagi kalau liat kasur kosong. Hhmmm pengen langsung ngiler aja. Tapi karena besok sudah senin lagi, deg-degan lagi. Back to the daily routine....

curhatan buruh pabrik,
Redha Herdianto

Foto dari tanah rantau

Inilah beberapa foto yang baru bisa kukirim setelah seminggu disini. Aku merasa sedih kalau mengingat bahwa inilah kenyataan hidup yang harus aku hadapi. Tidak ada fasilitas seenak dulu. Tapi disisi lain aku juga sangat bersyukur bahwa aku sudah berani melangkahkan kaki dan membuat keputusan untuk keluar dari "zona nyaman", baik di rumah dengan segala fasilitas dan di BBS Unilanet yang memang sangat menyenangkan. Dan aku rasa tidak semua manusia hebat berani nyemplung dalam dunia ini.

Kartu Pengenal Karyawan

mess_putra

mess putra

mess nikomas gemilang

mess ancur


Inilah beberapa foto yang aku kumpulkan dan aku kabarkan buat teman-teman diluar sana. Tenang tidak akan aku tinggalkan blog ini. Inilah media penghibur diriku di negeri orang ini. Kapan-kapan aku kabarin lagi, tentunya akan lebih seru lagi ceritanya.

lagi merantau,
Redha Herdianto